AtjehLINK Icon
Thursday, 20 June 2013
Find us on: feed rss facebook twitter

Korban Banjir Bandang Simpang Jernih Memprihatinkan

Aceh Timur - Ratusan Kepala Keluarga (KK) korban banjir bandang di Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur, kini masih hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Mereka dibalut dengan persoal sosial pasca-banjir bandang pada tahun 206 silam. Selain, itu permasalah pelayanan kesehatan juga dirasa belum maksimal di wilayah pedalaman Aceh Timur itu yang berbatasan langsung dengan Aceh Tamiang dan Gayo Lues.

Demikian disampaikan Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, SHI, Jumat (27/7). Iskandar mengungkapkan hal itu usai melakukan kunjungan kerja ke Simpang Jernih bersama dengan rombongan Bupati Aceh Timur, Rabu (25/7) lalu.”Kontras sekali permasalahan sosial yang terjadi sana,” ujar Iskandar.

Menurutnya, setelah beberapa tahun musibah banjir bandang berlalu, para korban banjir hidup di rumah yang tidak layak huni. ”Berdasarkan data yang sampaikan warga, bahwa mereka ada meneriman bantuan awal pembangunan rumah sekitar Rp 15 juta. Dengan dana itu mereka mampu membangun pondasi dan atap rumah. Selebihnya mereka menambah dengan biaya sendiri,” sebut Iskandar.

Namun, kata dia, ratusan lainnya karena keterbatasan ekonomui tidak dapat melanjutkan pembangunan rumah dan hidup dengan memprihatinkan. Bahkan, masih ada rumah bantuan yang tidak siap itu kondisinya tidak terurus. Pemerintah periode sebelumnya, kata Iskandar, termasuk Pemerintah Aceh tidak mencari solusi demi kelanjutan bantuan rumah banjir bandang sehingga mereka hidup memprihatinkan.

Kecuali itu, sebut mantan aktivis IAIN Ar-Raniry ini, korban banjir bandang kini was- was dengan status tanah hibah untuk pembangunan rumah dari Pemkab Aceh Timur. ”Mereka mengaku tidak memegang surat hibah sampai saat ini. Padahal menurut pengakuan mereka, pemerintah periode sebelumnya sudah berjanji menyelesaikan itu setelah bantuan awal diterima dan digunakan,” ungkap Iskandar lagi.

Persoalan Kesehatan

Iskandar juga mengungkapkan permasalahan yang terjadi di Kecamatan pedalaman Simpang Jernih adalah mengenai masalah kesehatan. Di mana pelayanan kesehatan dilaporkan belum maksimal. Iskandar mecerikatan, sebulan yang lalu, seorang warga Simpang Jernih tertimpa pohon dan pecah kepala yang bernama M Jamin. Ketika dibawa ke Puskesmas, saat hendak dijahit tidak ada obat biusnya dan juga tidak ada oksigen. Pasien terpaksa dibawa warga dengan mobil warga ke Puskesmas Bandar Pusaka, AcehTamiang.

” Kita mengharapakan kejadian seperti yang dialami warga pedalaman Simpang Jernih tidak terulang kembali. Dinas Kesehatan harus melakukan evaluasi terhadap pelayanan keseatan di saa. Jika tidak,bisa jadi warga Aceh Timur yang berada di sana tidak menikmati layanan kesehatan layaknya warga di kecamatan lain,” demikian Iskandar Usman Al-Farlaky.

Sebagaimana diketahui, banjir bandang yang terjadi pada 23 Desember 2006 itu telah mengakibatkan kerusakan parah dan menimbulkan 28 korban jiwa. Tercatat 2.303 rumah hanyut, 8.747 rusak berat dan 14.950 unit rusak ringan, di samping sarana sosial berupa rumah ibadah sebanyak 60 unit, sekolah 164 unit, jembatan rusak 1.348 meter serta jalan provinsi/kabupaten sepanjang 49 kilometer. Dalam bencana itu juga dilaporkan sebanyak 1.466 sapi mati atau hilang, 15.749 hektare lahan pertanian rakyat rusak, seluas 1.940 hektare palawija mati, serta 6.000 kambing milik masyarakat hilang ditelan banjir bandang. (IS)



Redaksi: redaksi@atjehlink.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi Hafid Junaidi di iklandiatjehlink@gmail.com
Telepon 0821 6446 9505

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>