AtjehLINK Icon
Wednesday, 19 June 2013
Find us on: feed rss facebook twitter

Petugas Gagalkan Penyeludupan 17,5 Ton Gula Impor

Sabang – Pantas saja daerah yang selama ini menjadi lumbung gula terbesar di provinsi Aceh, yaitu Kota Sabang yang juga kawasan Pelabuhan Bebas dan Perdagangan Bebas (Free Port), akhir-akhir ini terjadi kelangkaan gula, meskipun setiap bulannya ada pemasukan gula dari luar negeri ke pulau bebas cukai itu.

Betapa tidak Minggu pagi dua truck yang berisi gula pasir produksi Malaysia yang diimpor dari negeri jiran tersebut dan diduga akan diseludupkan ke daratan Aceh, namun sebelum dua truck yang bermuatan 17,5 ton gula itu dinaikkan ke kapal ferry KMP BRR, terlanjur ketangkap anggota Kodim 0112/Sabang.

Setelah dipastikan bahwa kedua truck tersebut berisi gula pasir yang hendak diseludupkan ke daratan Aceh, maka pihak aparat pengamanan negara tersebut membawa truck dimaksud ke kantor polisi terdekat, yaitu pos KP-3 Balohan Kecamatan Sukajaya. Tetapi anehnya beberapa saat kemudian kedua truck yang masih bermuatan gula itu, keluar dan menjualnya kepada masyarakat setempat dengan harga yang “mencekik leher”.

Kelangkaan akan gula di Kota Sabang sungguh sangat riskan, sebab baru saja tanggal 17 Juli lalu importir memasukan 150 ton gula dari negara tetangga Malaysia, gula yang diangkut dengan kapal kayu tersebut sesuai dengan izin yang dikeluarkan Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS), khusus untuk kebutuhan masyarakat pulau paling barat Sumatera ini.

Menurut keterangan Kepala Bidang (Kabid) Pasar Dinas Perindustrian dan Koperasi UKM Kota Sabang, Syamsul Irwan, gula yang didatangkan dari luar negeri itu diperuntukan bagi kebutuhan masyarakat pulau Sabang saja. Namun kenyataan perizinan yang dikeluarkan oleh BPKS hanya sebagai kedok semata, buktinya 17.5 ton tertangkap basah ketika hendak dicoba seludupkan ke daratan Aceh.

Padahal dalam beberapa hari terakhir masyarakat Sabang sendiri mengalami kelangkaan gula, sampai-sampai ketika gula tiba di gudang importir, masyarakat rela mengantri dari pagi hingga malam hari. “Seperti yang terjadi pada Kamis dan Jumat lalu ratusan terutama ibu-ibu rumah tangga antri untuk mendapatkan gula di Gudang Sabang Ria milik Suhendi,” kata Syamsul kepada AtjehLINK, Minggu (22/7) di depan lokasi penjualan gula yang gagal diseludupkan itu.

Keterangan yang dihimpun dari sejumlah pembeli gula yang gagal diseludupkan dan dijual kembali itu menyebutkan, kalau harga di gudang Suhendi satu zak 50 kilo gram dijual Rp.440 ribu. “Sedangkan disini kami harus mebayar dengan harga Rp.510 ribu per-zaknya, kalau kami tidak membeli sudah pasti kami tidak mendapat gula,” katanya kepada media ini.

Sementara salah seorang tokoh pemuda Balohan, Wan (45), yang sengaja mendatangi pemilik truck dan gula itu, menyesalkan atas tindakan yang dilakukan penguasaha yang diketahui bernama Marzuki itu. Pasalnya, toke Marzuki telah melakukan perdagangan tak sehat dengan mematok harga yang mencekik leher rakyat, karena jarak Balohan dengan Kota Sabang hanya 11 Kilo Meter (KM) tetapi keuntungan yang diambil dalam satu zak gula mencapai Rp.60 ribu.

Artinya lanjut dia, perbuatan toke Marzuki sudah kelewat batas cara memonopoli dengan melakukan penentuan harga jauh dari harga sebenarnya. Kalau gula 17,5 ton berarti 350 zak. Modal cuma Rp.440 ribu. Sementara dijual dengan harga Rp.510 ribu. Berarti keuntungannya mencapai Rp.12 juta. “Teganya dia itu mencekik leher rakyat disaat ekonomi krisis seperti ini,” terangnya.

Sebelumnya salah seorang Importir gula, Hamdani menguraikan, gula baru dapat dibeli setelah selesai bongkar muat di pelabuhan dan itupun hanya 2 Zak per orang. Kalau hari ini dipaksakan dirinya tidak setuju meskipun Walikota yang menyuruh mengeluarkan gula untuk dijual kemasyarakat.

“Gula itu adalah milik kami, jadi kamilah yang mengatur penjualannya dan  bukan pemerintah daerah meskipun ada utusan Pemerintah Dinas Perdagangan maupun apapat Kepolisian atau aparat lainnya seperti Pers, jatah saya yang 200 zak tidak akan saya perjual belikan sebabnya gula tersebut akan dikemanakan terserah saya ”, ujar Hamdani.

Pemilik Toko Aceh Jempa di Jalan Perdagangan selaku distributor gula sangat tidak puas atas tindakan yang dilakukan pengusaha Suhendi terhadap dirinya, sebab Suhendi tidak mengutamakan penjualan gula untuk masyarakat Sabang. “Kami yang selama ini menampung gula dari luar negeri dan menjual kepada masyarakat, tidak mendapat jatah kalau pun dikasih hanya dua atau satu zak saja,” ungkapnya.

“Jadi baru diketahui kalau gula yang katanya sudah menjadi milik orang nyatanya hendak diseludupkan ke daratan Aceh. Sedangkan di Sabang sendiri tidak cukup gula, itu permainan orang-orang yang mencari keuntungan besar dan rela menekan bangsanya sendiri,” tambahnya.

Sementara kepala Bea dan Cukai Sabang Muhammad Muzakir, yang ditemui wartawan mengatakan pihaknya bukan menutup mata atau tidak menghiraukan terhadap terjadinya penyeludupan yang terus marak di Sabang. Tetapi melihat dari Undang-undang Nomor 37 tahun 2001 dan Undang-undang Nomor 11 tahun 2006, semuanya rancu dan saling bertabrakan dengan Undang-Undang Menteri Keuangan dan Menteri Perdagangan.

“Maka selama ini Bea dan Cukai Sabang setiap diketahui adanya pihak-pihak yang menyeludupkan kami memilih mengabarkan petugas Bea dan Cukai Banda Aceh. Sebab dianggap kalau masih dalam kawasan Free Port Sabang jika kami tangkap malah melawan hukum, sehingga kami tidak bisa kerja maksimal, salah satunya apabila terketahui adanya terjadi penyeludupan kita laporkan ke petugas Banda Aceh,” jelas M Muzakir.

Keterangan yang diperoleh dari anggota Kodim Sabang menyebutkan, awalnya merekan curiga dua truck yang satu bermuatan seng bekas dan yang satunya lagi mobil box, setelah diperiksa ternyata kedua truck tersebut bermuatan gula pasir asal Malaysia yang hendak diseludupkan ke daratan Aceh. Kemudian kedua truck dimaksud digiring ke kantor KP-3 Balohan.

Truck yang bak terbuka bermuatan 200 zak gula sedangkan truck jenis box berisi 150 sak, anehnya gula tersebut kemudian dijual lagi persisnya di depan pasar pagi Kecatamatan Balohan itu, selanjutnya bergeser di depan Puskesmas setempat. Ironisnya, truck jenis box yang berisi 150 zak gula lari hilang entah kemana.

Pejabat terkait sampai berita ini diturunkan enggan mengomentari, padahal akibat percobaan penyeludupan tersebut masyarakat Sabang dibuat heboh. Sebab gula yang terus masuk ke pulau bebas cukai ini, kini diketahui bahwa kelangkaan gula disebabkan adanya penyeludupan ke luar Sabang.  (jalal)



Redaksi: redaksi@atjehlink.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi Hafid Junaidi di iklandiatjehlink@gmail.com
Telepon 0821 6446 9505

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>