AtjehLINK Icon
Wednesday, 19 June 2013
Find us on: feed rss facebook twitter

Sektor Pertanian: Solusi Aceh Pasca Era Migas

(Oleh: Zulfikar, S.P)

Sektor petanian, perkebunan, dan perikanan adalah sektor yang akan menopang perekonomian Aceh pasca minyak dan gas (migas). Krisis ekonomi Indonesia tahun 1997 yang lebih dikenal dengan krisis moneter telah membuktikan bahwa sektor petanian, perkebunan, dan perikanan tahan banting terhadap permasalahan tersebut.  Krisis ekonomi 13 tahun silam itu juga yang menyebabkan Perekonomian Indonesia terpuruk dan masa emas kepemimpinan Suharto pun ikut ambruk.

Kondisi saat Aceh kekinian juga akan menghadapi masalah yang sama kita prediksikan pasca era migas Aceh berakhir yang masih tersisa beberapa tahun lagi. Langkah konkret dan konperhensif perlu segera diambil oleh pemerintah untuk meluruskan kebijakan yang pro rakyat dalam membangkinkan perekonomian dan menambah PAD untuk membiayai keuangan daerah yang sebagian besar banyak terserap untuk belanja aparatur yang dulunya diandalkan dari dana hasil bagi migas.

Pengelolaan kawasan petanian, perkebunan, dan perikanan secara terpadu dan serius oleh pemerintah adalah jawaban konkrit permasalahan Aceh pasca migas. Tentunya kebijakan ini harus disertai dengan aturan dan dukungan yang penuh dari pemerintah sendiri. Selama ini selalu saja alasan dalam proses pencarian investor untuk berinvestasi di Aceh. Namun, hasilnya masih jauh seperti yang diharapkan. Yang ada hanya menghabiskan uang rakyat saja puluhan juta rupiah untuk perjalanan Dinas dan proses lobi-lobi. Dana itu seyogianya bisa digunakan untuk memajukan sektor petanian, perkebunan, dan perikanan yang dikelola sendiri oleh masyarakat dengan dukungan dan pengawasan yang serius dari pemerintah.

Bimbingan dan pelatihan perlu dilakukan untuk para pelaku usaha di sektor petanian, perkebunan, dan perikanan. Penyediaan sarana dan sarana pendukung merupakan denyut nadi utama dalam keberlanjutan usaha. Pendampingan secara serius sampai mandiri juga perlu dilakukan untuk menghasilkan produk-produk yang bermutu seperti yang diharapkan oleh konsumen. Penyediaan pasar juga tanggung jawab pemerintah untuk memenuhi dan menampung hasil produksi yang dihasilkan oleh para pelaku usaha. Karena karakteristik produk petanian, perkebunan, dan perikanan tidak tahan lama, musiman, dan dipenaruhi oleh iklim. Karena masih bersifat bahan baku utama untuk pengolahan pasca panen produk yang lain ketika sudah dilakukan pengolahan pasca panen.

Potensi pertanian Aceh sangat besar tetapi belum terorganisir dengan baik sehingga begitu panen betapa banyak dijual ke Medan dengan sendirinya tanpa ada pengolahan pasca panen. Karena belum tersedianya alat-alat pengolahan pasca panen. Pengolahan pasca panen dilakukan di Medan dan bahan jadinya dikirim kembali ke Aceh untuk dikonsumsi dengan harga yang lebih tinggi.

Produk pertanian, perkebunan, perikanan saat ini yang dihasilkan oleh para petani dan nelayan masih belum banyak menguntungkan pelaku sendiri. Ini disebabkan masih panjangnya rantai pemasaran yang terjadi. Sehingga yang menikmati keuntungannya adalah para tengkulak bak lintah darat ibaratnya. Yang menghasilkan produk adalah  petani dan nelayan dengan susah payah yang memakan waktu lama tetapi yang menikmati keuntungan berlipat ganda adalah tengkulak dengan rantai pemasaran yang panjang. Sehingga walaupun hasil panen banyak, petani dan nelayan tetap dalam keadaan rugi.

Dalam kajian ilmu agribisnis semakin panjang rantai pemasaran maka semakin sedikit keuntungan yang didapatkan oleh produsen. Kondisi ini berlaku pada daaerah yang dipengaruhi oleh faktor tertentu diantaranya adalah kemampuan pasar setempat untuk menyerap seluruh produk yang dihasilkan, selera konsumen, dan lain sebagainya.

Jumlah panen sawit tiap tahun di Aceh misalnya, betapa banyak diangkut ke Medan unuk di ekspor keluar Negeri. Padahal kita sendiri di Aceh khususnya Aceh Utara sudah memiliki pelabuhan sendiri untuk peti kemas yang digagas pada masa pemerintahan Ilyas Pase. Namun sayang sampai hari ini baru dua kali dilakukan ekspor melalui pelabuhan ini dan sekarang sudah mengalami kemandekan karena alasan tidak tersedianya bahan baku yang di ekspor.

Padahal kondisi ini berbanding terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya. Hasil bumi Aceh sangat banyak sekali tetapi masih banyak diculik oleh tengkulak Medan yang memainkan harga sehingga para pengusaha Aceh masih kalah bersaing dengan pengusaha Medan. Perlu dirumuskan sebuah kebijakan oleh pemerintah agar bisa menghidupkan kembali pelabuhan Aceh Utara untuk ekspor impor bahan baku dan barang konsumsi dari luar.

Penguasaan pasar yang masih sebagian besar dikuasai Medan menjadi tantangan baru bagi pengusaha Aceh untuk merebut kembali denyut nadi perekonomian Aceh yang sudah bertahun-tahun dikuasai Medan. Ketergantungan Aceh terhadap sumatera harus segera diatasi. Karena kalau kita bandingakan hasil Aceh dengan Medan, masih sangat kaya sumber daya Aceh yang dibawa ke Medan. Kemampuan sumberdaya manusia yang terbatas dengan tingkat pengetahuan yang masih minim membuat kita masih sulit bersaing dengan daerah lain.

Kebijakan Pemerintah Aceh yang pro petani dan nelayan perlu segera diwujudkan. Konsentrasi pembangunan dimasa kepemimpinan Zaini-Muazakir (ZIKIR) lima tahun yang akan datang kita harapkan mampu menyulap Aceh dari ketergantungan andalan migas yang hanya tinggal sisanya saja beberapa tahun lagi menjadi Aceh yang menghasilkan produk pertanian, perkebunan, dan perikanan yang akan memasok kebutuhan nasional dan bahkan Asia Tenggara seperti pada masa keemasan Sultan Iskandar Muda. Mungkinkah ini akan terwujud dan direalisasikan di tangan awak droteuh (tangan sendiri) atau hanya sekedar lelucon belaka untuk merebut kekuasaan semata. Kita harapkan saja semoga…!!!

(Penulis adalah seorang Petani dan Siswa Sekolah  Demokrasi Aceh Utara Angkatan II)



Redaksi: redaksi@atjehlink.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi Hafid Junaidi di iklandiatjehlink@gmail.com
Telepon 0821 6446 9505

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>