AtjehLINK Icon
Wednesday, 19 June 2013
Find us on: feed rss facebook twitter

Sunnah of the Day: Debat dan Canda

Ilustrasi. (AtjehLINK/Ngah)

AtjehLINK – Hadits di bawah ini mungkin dapat kita jadikan sebagai bahan introspeksi bagi kita semua, betapa sebenarnya Islam itu sangat menghindari hal-hal kecil yang dapat memecah belah persatuan dan mengakibatkan terputusnya tali silaturrahmi.

Berdebat adalah hal yang selama ini sering sekali kita lakukan, baik dalam dunia kerja, bersama teman seorganisasi atau bahkan dengan teman ngopi. Nah, untuk mengetahui tentang bagaimana sebenarnya anjuran Rasulullah terkait berdebat, ada baiknya kita perhatikan Hadits berikut ini.

Rasulullah bersabda. “Aku menjadi penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari perdebatan sekalipun ia benar, dan menjadi penjamin istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun ia bercanda,” (HR. Abu Daud).

Jelaslah bahwa Rasulullah sangat menganjurkan kepada umatnya untuk menghindari perdebatan, sekalipun apa yang sebenarnya ingin kita sampaikan dalam  perdebatkan itu adalah sebuah kebenaran, tak tanggung-tanggung, Rasulullah bahkan menjanjikan istana ditengah surga bagi siapa saja yang menghindari perdebatan.

Disisi lain Rasulullah juga menjanjikan istana ditengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan perbuatan dusta meskipun dusta tersebut kita lakukan hanya sebatas bercanda. Tak dapat kita pungkiri bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita sering bercanda dengan sesama teman, dan isi candaan kita tersebut cenderung berisi kata-kata dusta.

Hadits dibawah ini semoga akan semakin menguatkan kita untuk lebih berhati-hati lagi dalam berbicara (berdebat) karena (sekali lagi) rasulullah memberikan peringatan keras akan hal tersebut.

“Sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang paling jauh dariKu di hari kiamat kelak adalah orang yang banyak bicara, orang yang berpura-pura fasih dan orang-orang yang mutafaihiqun,”. Para sahabat bertanya. “Wahai Rasulullah, apa arti  mutafaihiqun?,”. Nabi menjawab. “Orang-orang yang sombong,” (HR. At-Turmudzi).

Tak bisa kita pungkiri bahwa saat kita berdebat dan argumentasi kita mampu mengalahkan pendapat orang lain maka kita akan dianggap fasih atau menguasai materi perdebatan tersebut, padahal mungkin sebenarnya bukan karena kita menguasai materi perdebatan tapi hal tersebut disebabkan karena lawan debat kita kurang menguasai materi perdebatan, sehingga apa yang lawan debat kita sampaikan mampu kita patahkan dengan argumentasi kita yang mungkin juga salah namun mampu membuat orang percaya.

Hal tersebut tentu saja akan membuat kita semakin tinggi hati, sombong (mutafaihiqun), karena menganggap diri kita lebih fasih dari orang lain. Jika ini terjadi, maka bersiaplah menjadi bagian dari orang-orang yang dibenci oleh Rasulullah dan jauh dari ‘Sang Junjungan Alam’ pada hari kiamat kelak.

Semoga kita tidak berada pada barisan orang-orang yang dibenci oleh Rasulullah pada hari kiamat kelak dan semoga kita menjadi orang-orang yang mampu menjadikan Al-Qur’an dan semua Sunnah Rasul sebagai pedoman hidup, Insya ALLAH. (Ngah)



Redaksi: redaksi@atjehlink.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi Hafid Junaidi di iklandiatjehlink@gmail.com
Telepon 0821 6446 9505

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>