shoe polish

(Ilustrasi: sumber poto: blog.warungmaspras.com)

Wajahnya sedikit sumringah, seorang pengunjung warkop memanggilnya dan bertanya, “brapa bang?”. Merasa yakin sang bapak hendak menggunakan jasanya tukang semir sepatu keliling itu langsung membuka box peralatan semirnya, dan menjawab. “Tiga ribu pak.

Sedikit mengerutkan jidat, si bapak langsung menjawab, “Gak jadi, kirain dua ribu,” ujar si bapak sembari menghisap dalam kretek di tangannya.

Guratan kesal dan kecewa tergambar jelas di wajah si tukang semir. Namun hal demikian tentu sudah sering ia alami. Ditutup kembali box peralatan semirnya, seraya berlalu dengan meninggalkan senyum kecil kepada sang bapak.

“Oh ya, gak apa-apa pak, permisi,” ujarnya sambil lalu.

Istri sang bapak langsung mencolek sambil menggerutu, “Kenapa gak disemir aja sepatunya pak?, kan lebih bagus kita kasi uang ke tukang semir sepatu dari pada ke pengemis abal-abal?” ujar si ibu.

Sang istri langsung memanggil tukang semir yang sudah beberapa langkah berlalu. “Bang, saya mau semir sepatu,”.

Tukang semir memalingkan wajah sembari tersenyum dan bergegas mendekat. Sang tukang semir tentu sering juga berada dalam situasi seperti itu. Situasi dimana profesinya dianggap sebagai sebuah kegiatan yang membutuhkan belas kasihan.

Padahal, sama seperti pekerjaan-pekerjaan lainnya, seperti ahli komputer atau ahli keuangan, dia sangat profesional dan mahir dalam hal menyemir.

Tukang semir langsung membuka box peralatan kerjanya, kemudian mengeluarkan sehelai handuk berwarna merah yang sudah sedikit kumal, mungkin karena sering terkena bahan semir.

“Ini bu’ untuk sekedar alas kaki,” ujarnya.

“Oh, iya, terima kasih bang,” jawab si ibu sambil melepaskan sepatunya. Mimik wajah sang ibu, mengguratkan rasa enggan untuk menginjak handuk kumal tersebut. Namun karena tidak ingin menyakiti hati sang tukang semir, si ibu tetap menginjaknya.

Saat tukang semir hampir menyelesaikan pekerjaannya, si ibu memberi kode kepada suaminya untuk segera melepaskan sepatunya.

“Kalo sudah selesai, langsung semir sepatu suami saya ya bang,” ujar si ibu.

“Iya bu, terima kasih,” jawab tukang semir, sembari memberi sentuhan akhir pada pekerjaannya, senyum kembali tergambar di bibirnya.

Sementara itu, di tempat lain, tepatnya di rumah sang tukang semir, seorang bocah terlihat terus merengek dalam pelukan ibunya.

Si ibu terus mencoba menenangkan anaknya. Sebuah koran bekas dari salah satu harian ternama di kota itu terus iya kipaskan ke tubuh kurus buah hatinya.

Siang hari tadi, hanya sepotong roti yang sempat masuk ke perut si bocah. Bukan sekedar makan siang, sepotong roti itu juga merupakan sarapan bagi sang bocah.

Sembari mengipaskan koran ke tubuh sang buah hati, si ibu berdendang, “Cepatlah pulang ayah tersayang, kami rindu bukan kepalang. Jika pun hanya senyum yang kau bawa pulang, cinta kami tetap untukmu seorang.”

Mendengar dendang sang bunda, si bocah langsung mengangkat wajah yang sedari tadi ia benamkan di pundak bundanya.

Ia tatap dalam-dalam wajah bundanya, dan tersenyum sembari berkata. “Bunda, jika pun tak ada roti, dendangan bunda dan senyum ayah adalah rezekiku hari ini,” ujar sang bocah sembari mencium dalam-dalam kening sang bunda…

(bersambung)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *