Berita PilihanHeadline NewsSigom Atjeh

Gubernur dan Menkopolhukam Bahas Pengungsi Rohingya

Gub-MenkopolhukamLhokseumawe – Gubernur Aceh, dr H Zaini Abdullah bersama Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) RI, Tedjo Edhy Purdijatno, menggelar Rapat Koordinasi, membahas penanganan pengungsi Rohingya dan Bangladesh, di Guest House Kompleks Perumahan PT Arun, Lhokseumawe, Minggu (7/6).

Menko Tedjo yang didampingi pejabat dari Kemenlu dan Kemendagri, tiba di Lhokseumawe sekitar pukul 11.00 WIB, dan langsung melakukan pertemuan.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Agus Kriswanto, Kapolda Aceh Irjen (Pol) Husein Hamidi, Bupati Aceh Utara Muhamamd Thaib, Wakil Walikota Lhokseumawe Nazaruddin, Wakil Walikota Langsa Drs. Marzuki Hamid, Wakil Bupati Aceh Timur Syahrul, Kepala Imigrasi Aceh, serta sejumlah pejabat lainnya.

Gubernur Zaini Abdullah dalam sambutannya mengatakan, masalah imigran Rohingya dan Bangladesh bukanlah hal yang baru. Sejak tahun 2006, sudah beberapa kali terdampar dan diselamatkan di wilayah perairan Aceh, mulai dari Sabang, Aceh Utara, hingga Aceh Timur dan Aceh Tamiang. “Langkah penyelamatan imigran yang dilakukan nelayan dan masyarakat Aceh ini hanya semata-mata karena unsur kemanusian.” ungkap Zaini.

“Namun berbeda dari sebelumnya, pengungsi Rohingya dan Bangladesh yang terdampar dalam dua bulan terakhir menjadi sorotan dunia karena jumlahnya relatif banyak,” tambah Abu Doto, sapaan akrab Zaini Abdullah.

Dirincikannya, jumlah pengungsi imigran yang terdampar sejak 10 Mei sampai saat ini sebanyak 1.718 orang dan tersebar di Kabupaten Aceh Tamiang,Aceh Utara, Aceh Timur,Kota Langsa dna Lhokseumawe. Selama dalam penampungan, jelas Gubernur, para pengungsi mendapat perhatian yang cukup baik dari segi sandang, pangan, kesehatan serta kebutuhan pokok lainnya.

Pemerintah Aceh, sebut Abu Doto, juga terus berkoordinasi dengan Pemerintah pusat dan pihak terkait untuk mencari solusi yang terbaik bagi pengungsi dari dua negara tersebut.

“Kita terus melakukan kerjasama dengan Pemerintah Pusat, IOM, UNHCR, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Imigrasi dan pihak terkait lainnya untuk pendataan dan masalah pemenuhan kebutuhan.” pungkasnya.

Zaini berharap kunjungan Menko Polhukam dapat memberikan solusi yang terbaik untuk penanganan dan penyelesaian pengungsi Rohingya dan Bangladesh.

Sementara itu, Menko Polhukam, Tedjo Edhy Purdijatno menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah dan Masyarakat Aceh yang telah membantu pengungsi Rohingya dan Bangladesh, yang mendapat pujian dari berbagai negara di Dunia. Selain itu tambahnya, Pemerintah Pusat juga berkomitmen membantu Pemerintah Aceh secara terpadu mencari jalan penyelesaian illegal imigran di Aceh.

“Kita akan meminta bantuan IOM dan UNHCR dan pihak terkait lainya untuk mencari solusi masalah ini, terutama untuk menyediakan penempatan permanen untuk pengungsi sebelum mendapatkan solusi terbaik.” kata Menko.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Misi IOM Mark Getchell dan Perwakilan UNHCR, Thomas Vargas juga menyampaikan kesediaannya untuk membantu penyelesaian pengungsi rohingya baik dari segi dana, penempatan dan kebutuhan yang di perlukan.

Terkait isu keamanan, Kapolda Aceh, Irjen Hussein Hamidi menegaskan bahwa pada prinsipnya kondisi keamanan di Aceh sangat kondusif, namun ada sedikit gangguan dari kelompok kriminal, dan ini sedang ditangani secara bersama dan persuasif.

“Kita akan terus melakukan langkah-langkah terbaik dalam menyelesaikan masalah keamanan di Aceh” ujarnya.

Hal yang sama juga dituturkan Pangdam Iskandar Muda, Mayjen (TNI) Agus Kriswanto. Menurutnya, situasi keamanan Aceh secara umum adalah kondusif. Pangdam juga mengatakan bahwa Gubernur Aceh sangat bijaksana dalam memerhatikan sektor-sektor kemiskinan dan penanganan keamanan di Aceh.

Untuk penanganan pengungsi Rohingya dan Bangladesh, Agus Kriswanto berharap kepada Pemerintah agar dapat menyelesaikan dengan cepat sehingga tidak timbul permasalahan sosial lainnya.

Gelombang kedatangan imigran Myanmar dan Bangladesh yang masuk melalui jalur laut terjadi pada Mei lalu. Tercatat ada 1.810 pengungsi yang tersebar di Langsa 682 jiwa, Aceh Utara 328 jiwa, Aceh Timur 409 jiwa, Aceh Tamiang 48 jiwa, Lhokseumawe 247 jiwa, dan Medan, Sumatera Utara, sebanyak 96 orang.

Dari 1.810 jiwa tersebut terdiri dari laki-laki dewasa 1.328 jiwa, perempuan 244 jiwa dan anak-anak 238 jiwa. (Ngah)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *