Berita PilihanHeadline NewsSigom Atjeh

Masjid Bukan merupakan Sarana Ibadah Semata

Doto (2)Aceh Singkil – Setelah menempuh perjalanan udara selama 90 menit dari Bandara Malikussaleh, Aceh Utara, Gubernur Aceh, dr H Zaini Abdullah, didampingi oleh Kepala Dinas Syari’at Islam Aceh dan Kepala Dinas Pendidikan Aceh, tiba di Bandara Syech Hamzah Fansuri, Aceh Singkil.

Kehadiran Gubernur ke Aceh Singkil adalah untuk melakukan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Al Aqsa atau Masjid Baitul Safriadi. Masjid yang berada di dalam komplek Dayah perbatasan Safinatussalamah, yang berada di Desa Biskang Kecamatan Danau Paris, (Minggu, 7/6/2015).

“Keberadaan Masjid ini tentunya di samping sebagai tempat yang nyaman untuk beribadah bagi masyarakat Aceh Singkil dan sekitarnya, juga semakin memperkuat keberadaan Dayah Safinatussalamah yang kita sebut juga sebagai dayah perbatasan,” ujar Gubernur.

Keberadaan Masjid Al Aqsa yang berada di Dayah Safinatussalamah diharapkan tidak hanya sebagai tempat untuk menimba ilmu agama bagi santri, namun juga menjadi media penangkis masuknya ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan norma masyarakat Aceh, khususnya di Aceh Singkil ini.

“Oleh sebab itu butuh dukungan kita semua agar Dayah dan Masjid ini dapat berdiri kokoh, dan kelak menjadi simbol bagi semua orang yang ingin mengenal Aceh dari wilayah perbatasan,” tambah Gubernur.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada semua pihak yang telah mendukung dan memperkuat keberadaan Dayah Safinatussalamah ini. Gubernur juga mengajak semua pihak untuk mendukungan pembangunan Masjid Al-Aqsa.

Gubernur juga menjelaskan, Aceh adalah salah satu wilayah yang memiliki sumber daya alam yang kaya serta memiliki sumber daya manusia yang handal, jika potensi yang ada dikelola dengan baik, maka Gubernur meyakini, Aceh memiliki peluang yang sangat besar untuk maju dan berkembang.

Selain itu, keberagaman budaya dan sub-etnis yang ada di Aceh menjadi bukti bahwa sepanjang kemajuan tersebut sesuai dengan norma yang berlaku, maka Aceh akan menjadi wilayah yang sangat terbuka dan mau menerima kemajuan peradaban.

“Saya katakan Aceh kaya dengan keberagaman, karena Aceh ini tidak hanya terdiri dari satu sub etnis saja. Kita memiliki banyak kekayaan budaya, beragam sub-etnis dengan bahasa daerah masing-masing.”

Bahkan, lanjut Gubernur, jika dikaji secara detail, setidaknya ada lebih dari 14 bahasa daerah yang berkembang di Aceh, mulai dari bahasa Aceh Pesisir, Gayo, Alas, Kluet, Melayu Jame, Bahasa Aceh Singkil, dan beberapa bahasa lainnya.

Zaini menjabarkan, keberagaman yang dimiliki Aceh dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat luar untuk datang dan berkunjung kewilayah paling barat Indonesia ini. Menurut Gubernur, kedatangan masyarakat luar ini berpotensi menghadirkan percampuran budaya.

“Seiring perjalanan waktu, budaya Aceh bisa jadi semakin kaya, tapi bisa pula memudar, jika kita tidak bisa menjaga dan melestarikannya,” ujar Gubernur mengingatkan.

Hamzah Fansuri dan Syiah Kuala, Dua Ulama Besar Kelahiran Singkil.

Dalam kesempatan tersebut Gubernur juga menekankan betapa Aceh sangat kental dengan kebudayaan Islam. Berbicara tentang Islam dan budaya di Aceh, maka masyarakat tentu akan mengaitkannya dengan dua ulama besar yang terlahir dari Aceh Singkil.

“Sebagaimana diketahui bersama, Teungku Muhammad Hamzah Fansuri dan Abdurrauf As Singkili atau yang lebih dikenal dengan nama Syiah Kuala adalah dua sosok penting yang menjadi Bapak dari budaya Aceh. Keduanya adalah ulama yang harus diteladani,” ujar Gubernur.

Untuk itu, lanjut Gubernur, menjaga agar masyarakat Aceh dapat menerapkan ajaran agama dan budaya yang dikembangkan dua ulama besar ini adalah tugas seluruh masyarakat Aceh.

“Terutama bagi masyarakat Aceh Singkil, hendaknya memiliki beban moral sebagai pencitraan bagi wajah Aceh, mengingat kawasan ini berbatasan langsung dengan provinsi tetangga kita, Sumatera Utara.

Menurut Gubernur, jika masyarakat tidak mampu memperlihatkan identitas Aceh di kawasan perbatasan, maka dikhawatirkan rongrongan budaya luar akan terus masuk hingga ke wilayah inti kota, sehingga pada akhirnya dapat merusak budaya yang telah dikembangkan para ulama dan guru-guru kita sebelumnya.

“Karena itulah, sekali lagi saya ingatkan, identitas ke-Aceh-an kita harus kita perkuat di wilayah perbatasan ini, sehingga begitu sampai di kawasan ini, orang-orang bisa membedakan Aceh dengan daerah lainnya. Aceh yang saya maksud adalah Aceh dengan budaya Islam yang kental dan kepatuhan kepada norma-norma Syariat,” tegas Zaini.

Gubernur menambahkan, untuk memperkuat pengawasan budaya di wilayah perbatasan, fokus dan perhatian tidak cukup hanya sebatas pada pendidikan dan penguatan Dinul Islam, sektor lain juga membutuhkan penguatan. Untuk mendukung penguatan tersebut, Gubernur mengajak semua pihak untuk turut peduli dan membangun rasa kebersamaan.

“Para ulama, umara dan berbagai elemen masyarakat lainnya saya minta untuk bersatu mendukung program pembangunan, agar sektor-sektor ekonomi masyarakat terus berkembang, sehingga kita mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Aceh.”

Sebagai daerah yang kaya dengan sumber daya alam, terutama sektor perkebunan dan perikanan, Aceh Singkil diharapkan menjadi bagian terpenting untuk mendukung kemajuan Aceh di masa depan.

Gubernur berharap, kekompakan dan kebersamaan elemen masyarakat yang telah terbina di daerah ini dapat terus ditingkatkan, demi menyongsong gerak pembangunan yang bergulir semakin cepat dan menuntut hasil yang maksimal.

“Saya juga berharap penguatan Dinul Islam menjadi perhatian kita bersama, sehingga program kesejahteraan yang kita canangkan, akan berjalan beriringan dengan penguatan Syariat Islam yang menjadi ciri khas seluruh wilayah yang ada di Aceh,” pungkas Gubernur.

Kegiatan yang digelkar di halaman Dayah Safinatussalamah itu turut dihadiri oleh Bupati Aceh Singkil, Ketua dan anggota DPRK Aceh Singkil, Unsur Forkopimda Kabupaten Aceh Singkil, para Pimpinan Dayah Perbatasan Safinatussalamah serta Alim Ulama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat. (Ngah)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *