Berita PilihanHeadline NewsNasionalSeni Budaya

“Maju Kena Mundur Kena: Bertindak Sekarang”, Tema Jakarta Biennale 2015

Ilustrasi (Doc. Ist)

Ilustrasi (Doc. Ist)

Jakarta –  Pameran seni rupa kontemporer berskala internasional yang dilaksanakan dua tahun sekali, Jakarta Biennale 2015, akan kembali digelar November mendatang. Hendak meninjau masa kini, tanpa harus terjebak dalam nostalgia masa lampau dan mimpi-mimpi akan utopia masa depan, Jakarta Biennale 2015 mengusung tema, “Maju Kena Mundur Kena: Bertindak Sekarang.”

Merujuk surat elektronik yang diterima redaksi, Rabu (17/6/2015), ada tiga isu besar yang menautkan seluruh pameran dan proyek seni di Jakarta Biennale.

Pertama adalah penggunaan dan penyalahgunaan air, yang bisa menjadi sumber kehidupan juga bencana. Ada juga fokus terhadap sejarah, bagaimana masa lampau berdampak pada masa kini, bagaimana memori dan tradisi membentuk perilaku kita hari ini. Isu ketiga adalah pengaruh pembatasan peran gender di masyarakat dan bagaimana masing-masing dari kita bernegosiasi bahkan berkonfrontasi dengan identitas yang dipaksakan tersebut—yang tak jarang berujung pada tindak-tindak kekerasan.

Direktur Eksekutif Jakarta Biennale, Ade Darmawan mengatakan, “Jakarta Biennale sejak 2009 lalu telah bertransformasi dengan melibatkan publik dan ruang-ruang kota sebagai bagian dari praktek serta strategi artistiknya. Ini bertujuan ingin menempatkan Jakarta Biennale sebagai platform yang mendukung praktik-praktik seni rupa yang kritis terhadap publik dan ruang kotanya.”

Menurutnya, melalui karya-karya di Jakarta Biennale 2015 ingin disorot pencapaian-pencapaian warga, seberapapun kecilnya itu, di tengah kondisi hidup yang kian pelik. Mendampingi pameran dan proyek seni rupa, Jakarta Biennale menyiapkan sejumlah program pendukung berupa seminar, lokakarya, edukasi publik, dan panggung pertunjukan yang bisa dinikmati oleh seluruh publik Indonesia dan dunia.

Disebutkan juga, untuk pertama kalinya Jakarta Biennale bekerjasama dengan kurator internasional, yaitu Charles Esche. Seorang kurator dan penulis asal Inggris yang saat ini bekerja sebagai Direktur Van Abbemuseum di Belanda. Charles telah berpengalaman sebagai kurator pada beberapa Biennale seni rupa internasional seperti Gwangju, Istanbul, dan Sao Paulo. (Sp/M. Reza)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *