Berita PilihanHeadline NewsInternasional

Rumah Sakit Bantuan Aceh Di Gaza Segera Diresmikan

RS gazaJakarta -Rumah sakit sumbangan rakyat Aceh dan rakyat Indonesia lainnya telah rampung dibangun di Jalur Gaza, Palestina.

Pembangunan rumah sakit terbesar di Gaza itu, dikoordinasikan pembangunannya oleh Mer-C Indonesia atau Medical Emergency Rescue Commite.

Rumah sakit tersebut dilengkapi peratalatan canggih dan modern.

Dua ruangan pada rumah sakit itu, diberi nama dua tokoh asal Aceh, Tgk Cik Ditiro untuk ruangan instalasi gawat darurat (IGD) dan Cut Nyak Dhien untuk ruangan laboratorium.

Penabalan nama pahlawan tersebut sebagai ungkapan terimakasih atas partisipasi rakyat Aceh menyumbangkan dana sebesar Rp 6,3 miliar lebih yang dihimpun melalui Serambi Indonesia dan Pemerintah Aceh.

Dana tersebut diserahkan kepada Mer-C, oleh GubernurAceh Zaini Abdullah dan Pemimpin Umum Serambi di Indonesia, H Sjamsul Kahar.

“Kami mengundang gubernur Aceh hadir dalam peresmian rumah sakit tersebut. Insya Allah akan diresmikan Presiden Joko Widodo atas nama rakyat Indonesia,” kata Dr Joserizal Jurnalis, Presedium Mer-C (Medical Emergency Rescue Commite), menjawab Serambi di Jakarta, Jumat (19/6/2015).

Ia memuji sikap egaliter masyarakat Aceh yang secara sepontan menggalang bantuan hingga terkumpul 6 miliar lebih untuk mmbantu Palestina yang dibombardir Israel.

“Aceh adalah satu-satunya daerah di Indonesia yang melakukan penggalangan dana masyarakat melalui pemerintah daerah,” kata Joserizal.

“Dulu Aceh menyumbang dua pesawat untuk Indonesia, sekarang untuk Palestina.”

Joserizal mengharapkan peresmian rumah sakit tersebut bisa dilakukan pada bulan Ramadhan ini.

“Kami sudah komunikasikan kepada Presiden. Prinsipnya, kapan pun waktunya, kami siap. Kalau bisa ya Ramadhan ini,” ujar dokter spesialis bedah tulang ini.

Sudah Beroperasi

Rumah Sakit Indonesia di Gaza dibangun di atas tanah seluas 16 hektare. Pembangunan rumah sakit tersebut menghabiskan waktu 3,5 tahun dan pada 15 Juni lalu sudah diserahterimakan kepada Pemerintah Palestina.

Rumah sakit tersebut berada di Bayt Lahiya, Gaza Utara, lebih kurang 2,5 Km dari perbatasan Israel. Saat ini rumah sakit itu sudah bisa dioperasikan.

Pembangunan rumah sakit tersebut menghabiskan dana Rp 120 miliar, berasal dari sumbangan rakyat Indonesia, mulai dari Sabang sampai Merauke.

Ketua Presedium Mer-C, Dr. Henry Hidayatullah menyebutkan sangat tidak mudah mewujudkan pembangunan rumah sakit diGaza yang tak pernah aman dari ancaman Israel.

“Selain karena relawan Mer-C sulit masuk ke Gaza, juga membutuhkan dana sangat besar. Tapi Alhamdulillah, semua kendala itu berhasil diatasi. Berkat dukungan dan doa seluruh rakyat Indonesia yang ikhlas membantu moril dan materil,” katanya.

Gagasan mendirikan rumah sakit di Gaza bermula ketika serangan agresor Israel ke Jalur Gaza pada Desember 2008.

Relawan Mer-C berhasil masuk ke Gaza memberi bantuan medis.

“Kenyataan di lapangan sangat memprihatinkan. Rumah sakit hanya satu di Gaza dan fasilitanya terbatas. Korban perang banyak yang tak bisa ditangani dengan baik. Ini yang mendorong ide pembangunan rumah sakit di sana,” lanjut Henry Hidayatullah.

Tim Mer-C kemudian mengkoordinasikan pembangunan rumah sakit tersebut, mulai dari pencarian lahan, disain bangunan, sampai kepada pembangunan hingga rampung sekarang ini,” ujarnya.

Dipilihnya nama Indonesia, sebagai nama rumah sakit, tambah Henry, adalah perlambang cinta rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina.

Sumber: SERAMBINEWS.COM

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *