Berita PilihanHeadline NewsSeni Budaya

Teras Sore: Seni Rupa Aceh Masih Pura Pura?

Dua orang pemateri dari Jakarta Biennale 2015 (duduk di kanan) sedang menjelaskan pergerakan seni rupa di TerasSore II Kamunitas Kanot Bu, Rabu (24/6/2015) |Foto: MaOP.

Dua orang pemateri dari Jakarta Biennale 2015 (duduk di kanan) sedang menjelaskan pergerakan seni rupa di TerasSore II Kamunitas Kanot Bu, Rabu (24/6/2015) |Foto: MaOP.

Banda Aceh – Seni Rupa adalah satu alat pengikat ingatan masyatakat antara masa lalu dan sekarang yang tidak boleh dihilangkan dalam kondisi apapun, begitu terang Kurator Muda Jakarta Biennale 2015 dari Aceh Putra Hidayatullah di acaraTerasSore II Komunitas Kanot Bu Bivak Emperom, Rabu (24/6/2015).

Dalam acara kritisi seni rupa bertema Rupa Membongkar Kepura puraan itu Putra menegaskan, sudah semestinya perupa di Aceh juga menjadi bagian penting dalam mendokumentasikan sejarah melalui seni rupa. “Ini penting demi menjaga tali kebenaran sejarah,” tekannya di hadapan peserta TerasSore sembari menanti berbuka puasa.

Seperti lukisan di tembok arena TerasSore ini lanjutnya, semua karya Idrus bin Harun ini setiap bagiannya dibentuk dari rekam jejak fakta politik yang terjadi di Aceh sejak masa konflik hingga sekarang. “Termasuk politik Aceh dan Jakarta di dalamnya,” tekannya lagi.

Putra sendiri, akunya, ia di undang untuk menjadi bagian dari Jakarta Biennale 2015 dikarenakan konflik yang pernah melanda Aceh. Harapannya dari kegiatan seni bergengsi yang digelar oleh Yayasan Jakarta Biennale pada November nanti, putra asal Aceh ini mampu membawa dampak pada perubahan seni di Aceh.

Di samping Putra Hidayatullah, hadir juga Asep Topan seorang Kurator Muda lain dari Jakarta Biennale 2015 di acara diskusi tersebut, dalam pandangannya, selama ini seni masih terpusat di Jakarta saja. Ini menurutnya akan berdampak pada melemahkan pergerakan seni di nusantara.

Katanya lagi, seharusnya pergerakan seni harus terdistribusi hingga ke setiap daerah. Ini demi kemajuan seni di Indonesia. “Biarkan rakyat sendiri yang menilai identitas dari seni itu sendiri,” katanya.

Dalam kegiatan berdurasi 1,5 jam yang disopiri oleh Muhadzier M Salda itu mencuat pertanyaan penting dari peserta, apakah pelaku seni rupa dan karyanya di Aceh sudah sesuai fakta atau masih berbalut dalam baju kepura puraan ?. Menurutnya jikapun ada, hanya satu atau dua orang saja. (pan)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *