Berita PilihanNasional

BI Longgarkan Uang Muka Kredit Rumah dan Kendaraan

persentaseJakarta – Inilah jurus BI menghidupkan lagi ekonomi. Bank Indonesia (BI) akhirnya merilis beleid pelonggaran porsi pembiayaan bank atau loan to value (LTV) bagi kredit kepemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB). Relaksasi ini diharapkan bisa menggerakkan pasar kredit properti dan kendaraan yang melesu.

Aturan pelonggaran LTV ini tertuang dalam PBI No.17/10/PBI/2015 tentang Rasio Loan to Value atau RasioFinancing to Value untuk Kredit atau Pembiayaan Properti dan Uang Muka untuk Kredit atau Pembiayaan Kendaraan Bermotor. Aturan ini berlaku efektif sejak 18 Juni 2015.

Sebagai contoh, LTV KPR pembelian rumah pertama naik dari 70 persen menjadi 80 persen. Dengan kata lain, uang muka kredit minimal 20 persen. Sedangkan uang muka KKB untuk roda tiga atau lebih turun dari 30 persen menjadi 25 persen. BI yakin, relaksasi uang muka KPR dan KKB ini bisa mendongkrak kredit.

Hitungan BI, pertumbuhan KPR bisa bertambah 1 persen tahun ini setelah ada relaksasi LTV. “Nilai kreditnya sekitar Rp 4,5 triliun,” tutur Yeti Kurniati, Direktur Kebijakan Makroprudensial BI, Rabu (24/5/2015).

Tahun ini, BI memprediksi KPR tumbuh 12 persen. Sebagai perbandingan, tahun lalu, penyaluran KPR naik 11,89 persen. Kendati demikian, para bankir dan pebisnis pesimistis, pelonggaran itu akan manjur dalam jangka pendek. Sebab, daya beli masyarakat tengah menurun akibat kelesuan ekonomi.

Direktur Keuangan dan Strategi Bank CIMB Niaga Wan Razly Abdullah, bilang, daya beli masyarakat menjadi persoalan serius. “Jangankan untuk membeli rumah dan kendaraan, membeli pulsa telepon saja saat ini sudah berkurang,” seloroh Wan.

Setali tiga uang, Budi Nur Mukmin, General Marketing Strategy and Communication Nissan Motor Indonesia menilai, relaksasi itu tak serta merta mendongkrak penjualan mobil. Efeknya baru bisa terasa dalam jangka panjang. “Tapi, paling tidak keringanan ini bisa menjadi stimulus awal,” ujarnya. Lagi pula, bank pun juga tak mau gegabah dan jorjoran menggelontorkan kredit.

Anggoro Eko Cahyo, Direktur Konsumer Bank Negara Indonesia (BNI) mengatakan, bank akan meminimalisir risiko kredit macet atau non performing loan (NPL) akibat perlambatan ekonomi. Serupa, Bank Central Asia (BCA) pun masih pikir-pikir menggenjot KPR dalam kondisi seperti ini dan memilih tetap mematok target pertumbuhan di level 10 persen.

“Yang penting kredit berkualitas,” ujar Felicia Mathelda Simon, Division Head Consumer Bank Central Asia.

Wakil Ketua Umum Bidang Komunikasi Real Estate Indonesia (REI) Theresia Rustandi juga menilai, relaksasi itu memang bisa menggairahkan kembali bisnis properti yang sedang lesu. Pasalnya, pelonggaran LTV bisa mengangkat daya beli masyarakat. Hanya saja, dampak relaksasi uang muka kredit properti tersebut belum akan terasa dalam waktu dekat. “Sekarang sudah mau Lebaran. Konsumen punya prioritas lain,” tandasnya.

Sumber: KOMPAS.com

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *