Headline NewsNasional

Buka Puasa Bersama, Anak-anak Gereja Dendangkan Shalawat

Shinta Nuriyah Abdurachman Wahid pada acara peluncuran Abdurrahman Wahid Center dan diskusi Agama dan Toleransi di Persimpangan Jalan di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Rabu 18 Juli 2012. TEMPO/Subekti

Shinta Nuriyah Abdurachman Wahid pada acara peluncuran Abdurrahman Wahid Center dan diskusi Agama dan Toleransi di Persimpangan Jalan di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Rabu 18 Juli 2012. TEMPO/Subekti

Jakarta – Mantan Ibu Negara Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid (alhamhum Gus Dur) mengingatkan kaum Muslim bahwa puasa Ramadan bukan sekadar ibadah ritual tahunan. Menurutnya, banyak hakikat yang terkandung dalam puasa tersebut.

“Kami ingin mengajak kaum Muslim bisa mengerti dan memahami hakikat puasa. Saya khawatir pada mereka yang berpuasa tetapi tidak dapat pahala dan hanya mendapat lapar dan dahaga karena tidak mengetahui hakikat puasa,” katanya di Temanggung, Jawa Tengah, Jumat 26 Juni 2015.

Ia mengatakan hal tersebut menjelang buka puasa bersama dengan ratusan anak yatim piatu di Pendopo Pengayoman Temanggung yang diselenggarakan Jaringan Gusdurian bersama Pemerintah setempat. Ia menuturkan banyak Muslim Indonesia hanya sekadar menggugurkan kewajiban, belum tahu hakikat puasa.

Puasa bukan hanya mengajarkan lapar dan dahaga, tetapi juga mengajarkan umat untuk menjadi orang sabar dan kejujuran. “Berpuasa atau tidak hanya kita dan Allah SWT yang tahu, di sinilah diajarkan kejujuran karena orang lain tidak tahu,” katanya.

Menurut dia, dengan nilai-nilai berpuasa berarti orang bisa menata jiwa sehingga bisa juga menata bangsa yang bermartabat. Shinta Nuriyah mengaku terkesan dengan penampilan anak-anak dari Gereja Katolik Santo Paulus dan Santo Petrus Temanggung, yang menyanyikan lagu-lagu islami dengan iringan. Seperti Ilir-ilir, Shalawat tanpa Waton, dan Tamba Ati.

Shinta mengatakan, kegiatan buka bersama atau sahur bersama kaum duafa, kaum terpinggirkan, tukang becak, pemulung, dan lainnya akan selalu dilakukan. “Kita semua saudara, dari berbagai suku dan agama, semua bersatu dan damai. Ajaran ini ada di setiap agama. Tidak ada seorang pun yang ketika lahir tidak ada dalam masyarakat majemuk, jangan sampai ada yang mengingkarinya.”

(Sumber: Tempo.co)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *