Nasional

Film ‘Kantata Takwa,’ Seni Inggil 5 Musisi Cadas

Iwan Fals, salah satu personel Kantata Takwa yang masih vokal dan kritis hingga kini. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

Iwan Fals, salah satu personel Kantata Takwa yang masih vokal dan kritis hingga kini. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

AtjehLINK – Jika ada film Indonesia yang tak “mempan” diumpan ke pencinta film Hollywood, maka film Kantata Takwa adalah salah satunya. Rangkaian imajinya sarat simbol yang tak mudah dicerna.

Adegan musikal muncul silih berganti dengan adegan teatrikal. Rekaman (footage) konser grup band ini sambung menyambung dengan monolog masing-masing personel tentang musik, filosofi, dan seni nan inggil.

Kantata Takwa beranggotakan lima musisi cadas: Iwan Fals, Setiawan Djody, W.S. Rendra, Sawung Jabo, dan Jockie Suprayogo. Semasa jaya, era 1990-an, mereka berkibar lewat laguBento, Bongkar, dan Air Mata.

Menurut Bambang Supriadi, Wakil Dekan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang bertindak sebagai director of photography film ini, masa produksi atau syutingnya singkat saja: tiga bulan.

“Sementara rentang waktu pasca produksi sampai dengan rilis sekitar 17 tahun. Produksi tahun 1991, rilis tahun 2008,” kata Bambang kepada CNN Indonesia via surel (26/6).

Malam ini (26/6), film garapan Eros Djarot dan Gotot Prakosa ini kembali ditayangkan di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, sebagai bagian perayaan 45 tahun TIM.

“Saya menggarap film ini sembari menerjemahkan puisi-puisi Rendra, sebab kalau sekadar membuat film dokumenter ya pinjam rekaman TVRI saja,” kata Eros Djarot kepada CNN Indonesia di sela pemutaran film ini.

Menurut Eros, konteks film ini masih relevan di era sekarang. “Unbelievable things to see, setelah sekian lama kualitas manusianya masih sama. Isunya masih sama: keadilan, human right. Kita tidak mengalami kemajuan besar.”

Yang menarik, isu-isu tersebut tidak digambarkan secara gamblang, melainkan sarat filosofi dannyeni. Salah seorang penonton, Asikin, mengaku kagum dengan permainan simbol-simbol di film ini yang sarat makna.

“Karya seni yang baik ya, seperti itu: tidak menafsirkan sesuatu secara langsung. Surrealistic,” kata sang kurator Salihara kepada CNN Indonesia. “Film ini bukan semata hiburan, tapi pemikiran, intelektual.”

Alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) yang memfavoritkan lagu Bento ini menyampaikan keheranannya, “Aneh juga kalau Pemerintah tak bisa menangkap kritik tajam yang disampaikan Kantata Takwa.”

(Sumber:cnnindonesia.com)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *