Berita PilihanHeadline NewsRampoeSigom Atjeh

Cerita Tamat Ganja di Pulo Aceh (Bagian 2)

Bang Di dan istrinya sedang menyeberang ke Pulo Teunom. | AtjehLINK/Zamroe.

Bang Di dan istrinya sedang menyeberang ke Pulo Teunom. | AtjehLINK/Zamroe.

Sambungan dari bagian 1

Di luar hujan mulai reda. Namun Bang Di masih semangat bercerita. Lelaki ramah ini mengaku, ia adalah bekas seorang pengutip dalam peredaran skala besar ganja dari Pulo Aceh. Sejak diketahui ganja punya harga tinggi, warga setempat mengalihkan tanaman bercocok tanamnya di kebun-kebun mereka dari cengkeh ke ganja.

Soal larangan negara, menurut Bang Di, hampir semua masyarakat mengetahuinya sama sekali. Itu tidak lain karena tertutupnya informasi luar ke wilayah ini. Di tambah kawasan Pulo Aceh masa itu masih termasuk bagian dari kecamatan Pekan Bada Kabupaten Aceh Besar, yang pusat administrasinya di daratan membuat kawasan ini benar-benar tertutup.

“Dulu mana ada kantor pemerintahan di sini. Polsek, Koramil dan Kantor Camat semua di Pekan Bada sana. Di darat sana,” terang Bang Di.

Maka sebab tertutupnya Pulo Aceh, jadilah ganja menjadi sumber ekonomi warga kala itu. Bisnis ganja untuk dibeli oleh orang-orang daratan yang sengaja berlayar ke sini dipegang oleh beberapa orang berpengaruh. Termasuk Bang Di.

Bang Di masuk dalam sebuah sindikasi beranggotakan tujuh pemuda dari gampong berbeda di pulau paling barat Indonesia ini. Setiap anggota mempunyai tugas tersendiri. Malam itu Bang Di hanya menyebutnya tiga nama panggilan orang-orang yang pernah menjadi rekan kerjanya. Ada Pek Yan, Abu Salam dan Nek Min, sementara tiganya lagi Bang Di sudah tidak mengingat namanya.

Untuk memudahkan kerja di lapangan, Bang Di selaku kepala pengutip dibantu oleh 22 orang anggota lainnya. Lingkaran pelaku terbagi dari setiap gampong dan semuanya ia rekrut sendiri. Semasa itu, kisah Bang Di, ganja nyaris bisa ditemui di setiap halaman rumah masyarakat. “Kalau kita buka pintu rumah langsung nampak pohon ganja di kebun-kebun warga,” ujarnya sambil menyulut rokok.

Ketika ganja telah benar-benar menggantikan posisi cengkeh dalam keseharian masyarakat. Umumnya penduduk Pulo Aceh berprofesi ganda: Nelayan sekaligus petani ganja.

Pun demikian, warga tidak pernah menjual sendiri ganja hasil tanaman mereka. Apalagi dalam jumlah besar. Semuanya dikendalikan oleh kelompok Bang Di. Sebagai bocoran, untuk setiap sepuluh kilogram ganja yang akan dikeluarkan dari Pulo Aceh. Satu kilogram diambil Bang Di untuk diserahkan ke Pek Yan selaku kepala kelompok.

“Saya tidak tahu dibawa kemana ganja yang telah saya kumpulkan itu, saya hanya bertugas untuk mengutip,” kenang Bang Di.

Namun, menurut Bang Di, kedekatan masyarakat Pulo Aceh dengan ganja benar-benar terpisah setelah adanya peristiwa penting yang masih dianggap sakral oleh masyarakat aceh. Itu terjadi setahun sebelum bencana smong. Setelah kejadian itu bisa dikatakan ganja benar-benar hilang di Pulo Aceh. Pasar gelapnya seketika tutup. “Kalau pun masih ada ganja dan jual belinya masih ada, saya berani bertaruh itu hanya cilet-cilet (ecek-ecek) saja dibanding dengan apa yang kami kerjakan dulu,” katanya.

Sejak peristiwa penting itu, kata Bang Di, Pulo Aceh tuntas bersih dari ganja. Apa lagi sejak dimekarkannya wilayah Pulo Aceh menjadi satu kecamatan dan lepas dari kecamatan Pekan Bada di daratan sana. Kawasan ini sudah lebih terbuka, dengan adanya beberapa kantor administrasi kecamatan seperti Kantor Camat, Polsek dan Koramil.

Peristiwa penting yang mengikis keberadaan ganja yang dimaksud Bang Di adalah apa yang terjadi pada tahun 2003. Adalah kebijakan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Irjen Polisi Yusuf Manggabarani pengukuh peristiwa yang hingga sekarang masih lekat dalam ingatan warga.

Tahun itu, Pulo Aceh menjadi pusat pemberantasan ganja secara besar-besaran se Provinsi Aceh. Tapi jika dibayangkan pemberantasan ini dilakukan dengan gaya militer yang mengedepan tindak kekerasan adalah salah besar. Sebab kebijakan Kapolda Manggabarani saat itu bisa diterima dengan suka rela oleh semua masyarakat.

Kata Bang Di, dari caranya, jelas Kapolda saat itu memahami seutuhnya watak masyarakat Pulo Aceh. Kapolda pintar, sambung Bang Di, ia tidak menangkap. “Kalau main tangkap begitu saja, maka terlalu banyak warga yang harus ditangkap, karena hampir semua rumah dipastikan menyimpan ganja yang siap jual. Kapolda menggunakan pendekatan yang sesuai dengan tabiat masyarakat Aceh.”

Kepolisian Daerah Aceh memberikan tenggat waktu tiga bulan untuk tumpas habis ganja, baik di ladang atau di rumah. Ini disosialisasikan ke seluruh gampong di Pulo Aceh. Bersamaan dengan kegiatan ini, polisi juga telah mendeteksi jaringan lokal pemasok ganja ke pasar gelap daratan Aceh.

Disisi lain pada masa yang sama pula ganja telah jadi komoditas utama di Pulo Aceh. Ekonomi masyarakat bergerak naik. Hampir semua warga sudah mampu beli sepeda motor kala itu. Padahal ruas jalan di belumlah sebagus sekarang. Masih berupa jalan tanah yang kalau musim hujan dipastikan sangat susah dilalui.

“Harga ganja saat itu 25 ribu rupiah perkilogram,” terang bang Di.

Anehnya, ungkap Bang Di, sejak awal ultimatum selama tiga bulan bahwa ganja akan dibumi hanguskan di Pulo Aceh, masyarakat saat itu justru merasa sangat bebas untuk bertransaksi. “Masyarakat seperti dibebaskan untuk menanam dan menjual sebanyak mungkin. Apa maksudnya? Kami tidah tahu,” kata Bang Di sambil terkekeh.

Tiba saatnya setelah tenggat tiga bulan ultimatum di tahun 2003, seluruh masyarakat diwajibkan untuk mengeluarkan semua ganja yang disimpan di rumah. Bagi yang punya ladang juga diharuskan mengerjakan hal serupa. Himbauan dikirim ke setiap gampong via Keuchik/ Kepala Desa. Pada hari yang telah ditentukan, warga berduyun-duyun memanggul ganja ke pelabuhan di gampong Ulee Paya.

Setelah terkumpul yang menurut Bang Di jumlahnya dalam hitungan ton, di mana tumpukannya menggunung di lapangan luas, ganja pun dibakar. Masyarakat menyaksikan langsung dari dekat proses pembakaran ganja ini.

Hal serupa juga diceritakan Burhanuddin (30) ketika ditemui di warung kopi bertuliskan “Dilarang hisap ganja di area warung” keesokan harinya. Pun pada masa pemusnahan ganja besar-besaran itu Burhan masih terbilang pemuda tanggung, ia pernah mendengar cerita orang-orang tua tentangnya.

Bahkan sebagaimana yang pernah didengarnya, dalam operasi tersebut, polisi juga menurunkan helikopter untuk mengawasi proses pemusnahan. “Pada masa itu, warga yang datang membawa ganja, ada yang menentengnya kantong plastik, ada yang mengangkut menggunakan karung besar. Semua dibawa ke lapangan untuk dibakar,” ujar Burhan.

Walau semua ganja sudah dibakar, proses pemutusan mata rantai pasar gelap ganja di Pulo Aceh belum usai. Strategi Kapolda Aceh selanjutnya, kata Bang Di, adalah dengan memanggil tujuh orang anggota kelompoknya. Pemanggilan itu, menurutnya, dilakukan dengan sangat terhormat oleh pihak polisi. Yaitu semua anggota kelompoknya dipanggil untuk berkumpul di Masjid Gampong Gugop. Tetangga Gampong Seurapong yang letaknya persis di seberang teluk tempat pelabuhan Seurapong berlokasi.

Bersamaan dengan pemanggilan terhadap Bang Di dan komplotannya, Kapolda juga mengundang 13 ulama di daratan Aceh untuk berjumpa langsung dengan komplotan Bang Di di masjid yang sama. “Suasana hari itu riuh sekali. Masyarakat berdatangan untuk menyaksikan gerangan apa yang terjadi di dalam masjid.”

Setelah dipertemukan dengan saling berhadapan dengan sejumlah ulama dan tokoh masyarakat Aceh, ketujuh orang kelompoknya lalu diambil sumpah di Al-Qur’an untuk tidak lagi menampung ganja dan penjualnya kepada siapa pun. Proses pengambilan sumpah ini, menurut Bang Di adalah sumpah yang dilakukan secara simbolik, dan juga tertuju kepada seluruh masyarakat untuk tidak menanam ganja lagi.

Mengenang peristiwa itu, Bang Di tersenyum tipis. Bibirnya yang legam oleh candu rokok tersungging sambil menarik napas dalam-dalam. Seperti ada beban hidup yang baru saja dilepaskan begitu saja setelah ia mengisahkan prosesi pengambilan sumpah itu.

Bang Di mengaku dengan sadar. Kenakalan yang ia lakukan dengan kelompoknya berakhir di bawah Al-Qur’an. “Di hadapan ulama, tokoh, polisi dan masyarakat ramai, kami bersumpah untuk tidak menanam dan menjual ganja lagi. Itu masih saya pegang hingga sekarang. Kita orang Aceh sebakhil apa pun kita, kayaknya tidak akan mau main-main dengan sumpah. Apalagi yang melakukan sumpah kita para ulama. Siapa berani ingkar coba?”

Sejak sumpah diikrarkan, Bang Di mulai merubah kesibukannya. Begitu juga dengan teman-teman seperjuangannya. Ia aktif turun ke laut sekadar mencari lobster atau gurita di sekitar Pulo Teunom hingga sekarang. Hasilnya ia jual ke penampung.

“Setelah setelah sumpah, mendadak peredaran ganja di Pulo Aceh boleh dikatakan tamat,” kata Bang Di menutup ceritanya.

Seusai Bang Di menutup kisahnya sejenak semua diam. Hujan telah reda. Suasana ruang tamu yang sekarang berkabut oleh kepul asap rokok mendadak hening. Kecuali debur ombak pantai berderu, dan suara jangkrik di luar menjadi pelengkap bagi meruapnya aroma laut masuk ke dalam indera penciuman.

“Saatnya makan malam,” kata Emak membuyarkan keheningan.

Lantas ruang tamu tempat cerita tamatnya ganja di Pulo Aceh dikisahkan kembali oleh Bang Di, disulap jadi ruang makan. Nasi putih, telur dadar, ikan asin dan sayur bening telah terhidang.

“Kalau ganja tidak dilarang mungkin Emak bisa memasakkan kalian kuah lemak pucuk ganja dicampur dencis,” kata Emak sembari terkekeh. (Zamroe/Reza)

Tamat.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *