Berita PilihanHeadline NewsRampoe

Insiden Tolikara, Gubernur Aceh: Lakum Diinukum Waliyadiin

Pangdam IM: Jangan Mudah di Adu Domba

pangdam gub kapolda

Ilustrasi (Sumber poto: aceh.tribunnews.com)

Banda Aceh  – Insiden yang terjadi di Tolikara, Papua adalah sesuatu yang sangat mengejutkan. Sementara itu, sejak masa Kesultanan Aceh, walaupun Aceh sering berada dalam kondisi huru-hara, namun tidak pernah terdengar terjadi konflik antar umat beragama di daerah berjuluk Serambi Mekah ini.

Hal tersebut disampaikan oleh Gubernur Aceh, dr H Zaini Abdullah, saat menyampaikan sambutan singkatnya pada kegiatan Silaturrahmi pangdam Iskandar Muda dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Aceh, yang digelar di Balai Teuku Umar, Markas Kodam Iskandar Muda, (Kamis, 23/7/2015).

“Tidak ada sesuatu yang memaksakan kita untuk tidak menghargai agama lain. Jika sampai pada suatu titik yang tidak bisa terselesaikan, maka kita dapat kembali pada apa yang telah termaktub pada Surat Al-Kafirun, Ayat 6, yang berbunyi, ‘Lakum Diinukum Waliyadiin,’ (Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku), inilah yang diajarkan oleh Islam,” terang Zaini.

Gubernur menjelaskan, meskipun di seberang Masjid Raya Baiturrahman atau tepatnya di sebelah Makodam Iskandar Muda terdapat Gereja. Kemudian di daerah yang juga tidak terlalu jauh, yaitu di kawasan Peunayong juga terdapat Vihara (klenteng). Namun tidak pernah terdengar ada gangguan saat umat agama tersebut beribadah.

“Ini menandakan sikap toleransi beragama di Aceh sangat tinggi. Bahkan sejak masa Kesultanan, Aceh juga sudah membangun hubungan yang baik dengan negara-negara yang bukan negara Muslim, seperti Inggris, Belanda, Perancis dan lain-lain,”terang Zaini Abdullah.

Empat langkah Antisipatif Gubernur

Sementara itu, dalam rangka menyikapi perkembangan yang terjadi terkait dengan insiden pembakaran Rumah Ibadah di Tolikara, Papua, pria yang akrab disapa Doto Zaini tersebut menyampaikan empat langkah yang harus diambil guna mengantisipasi kemungkinan munculnya kejadian serupa di Aceh.

Berikut ini adalah empat langkah antisipatif yang disampaikan oleh Gubewrnur Aceh dalam kegiatan Silaturrahmi tersebut:

  1. Perlu segera diinstruksikan kepada para bupati/wali kota untuk segera melakukan rapat koordinasi Forkopimda Kabupaten/Kotanya masing-masing guna membahas langkah-langkah antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya konflik terkait SARA serta provokasi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu.
  2. Perlu dilakukan pertemuan tokoh antar umat beragama di Aceh guna membangun komunikasi dalam rangka menjaga kerukunan hidup antar umat beragama di Aceh yang selama ini sudah terbina dengan baik agar insiden Tolikara, Papua tidak merembes atau berdampak ke Aceh.
  3. Menghimbau masyarakat agar senantiasa menjaga keamanan, ketentraman dan ketertiban dalam masyarakat dengan membangun suasana kehidupan yang penuh toleransi dan saling menghargai antar umat beragama. Kedamaian adalah segala-galanya untuk membangun Aceh yang lebih bermartabat di masa mendatang.
  4. Kepada pihak keamanan (Polri/TNI) hendaknya senantiasa melakukan deteksi dini terhadap upaya-upaya yang dapat memecahbelah persatuan dan kerukunan antar umat beragama di Aceh.

Pangdam IM: Jangan Mudah di Adu Domba

Pada kesempatan tersebut, Pangdam Iskandar Muda, Mayjen TNI Agus Kriswanto, dalam sambutan singkatnya berharap agar para tokoh agama Aceh dapat memberikan pernyataan yang menyejukkan, bukan hanya bagi Aceh tetapi juga bagi masyarakat Indonesia.

“Masyarakat harus cerdas menyikapi isu-isu yang berkembang yang dapat memecahbelah persatuan. Kami harap para tokoh agama dapat memberikan pernyataan yang menyejukkan keadaan, sehingga kita terhindar dari upaya adu domba, dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab,” ujar Pangdam.

Pangdam juga menjelaskan, kerukunan beragama di Aceh justru terjadi saat lebaran. Saat jembatan di kawasan Kruang Sabee putus, para prajurit yang beragama non Islam yang membuat jembatan Bailey.

“Di Aceh, justru kerukunan antar umat beragama terjalin dengan baik. Prajurit saya yang non-Muslim yang telah membangun jembatan disana sehingga masyarakat yang mudik dapat kembali melanjutkan perjalanannya ke kampung halaman masing-masing.

Pangdam menambahkan, dalam waktu dekat, Dan Rindam IM, Kol Inf Sugiono akan diangkat menjadi Danrem Tolikara, Papua.

“Kamu harus menyampaikan pesan perdamaian dan mengkampanyekan bagaimana kehidupan antar umat beragama yang sangat rukun di Aceh ini. Sebagai prajurit Sanggamara kamu harus menyampaikan hal ini. Ini tugas tambahan untuk kamu,” ujar Pangdam kepada Kol Inf Sugino, disambut tawa para hadirin yang memadati Balai Teuku Umar.

“Siap Laksanakan,’ jawab Kol Inf Sugiono singkat.

Umat Islam Aceh Sangat Toleran dengan Agama Lain

Sementara itu, dalam diskusi yang dipandu oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Aceh, H Nasir Zalba, para tokoh agama menyatakan, bahwa Aceh adalah daerah yang sangat toleran dalam kehidupan antar umat beragama

Seluruh tokoh agama yang mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan testimoni, terkait kerukunan kehidupan antar umat beragama di Aceh menyatakan, di wilayah paling barat Indonesia ini, kehidupan antar umat beragamanya sangat harmonis dan saling menghormati.

“Saya adalah generasi kelima yang telah hidup di Aceh, sejak dahulu saya tidak pernah mendengar ada konflik yang mengatasnamakan agama terjadi di Aceh,” terang Yuswar, selaku Pemuka Agama Budha yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Yuswar menjelaskan, Bahkan ketika banyak orang takut dan ragu dengan dilaksanakannya Syari’at Islam di Aceh, dirinya justru mengkampanyekan bagaimana damai dan rukunnya kehidupan antar umat beragama di Aceh.

“Saya pergi ke Malaysia, ke Taiwan dan beberapa negara lainnya, banyak masyarakat yang ragu dengan pelaksanaan Syari’at Islam. Namun setelah saya jelaskan mereka baru memahami bagaimana rukunnya kehidupan disini” tambah Yuswar.

Dalam kesempatan tersebut, Yuswar juga meminta kepada Pemerintah Aceh dan semua pihak agar mengakampanyekan kerukunan hidup antar umat beragama di Aceh ke dunia luar.

“Ini penting, agar Aceh bisa menjadi model bagi dunia luar, dalam hal kerukunan kehidupan antar umat beragama.”

Kegiatan yang digagas oleh Kodam Iskandar Muda dan Pemerintah Aceh melalui Badan Kesbangpolinmas Aceh ini turut dihadiri oleh Paduka Yang Mulia Wali nanggroe, Malik Mahmud Al-Haytar, Kapolda Aceh, Irjen Pol Drs Husein Hamidi, Wakil Ketua DPRA, Dalimi, SE, perwakilan Kajati Aceh.

Beberapa tokoh Aceh juga terlihat hadir, diantaranya Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Aceh, Prof Hasbi Aminuddin, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Prof Yusni Sabi, Buya Imam Syuja’I, serta beberapa tokoh Aceh lainnya.

Sementara itu dari para anggota Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) juga terlihat hadir, diantaranya, Ketua FKUB Aceh, Zainuddin Ahmad, Pemuka Agama Budha, Yuswar, Pemuka Agama Protestan, Pdt Drh Idaman Sembiring, Pemuka Agama Katholik, Pastor Hermanus, Pemuka Agama Hindu, Paini.

Beberapa ormas dan organisasi kepemudaan juga terlihat hadir pada acara tersebut, diantaranya KNPI, BKPRMI, Pemuda Muhammadiyah, Pemuda Pancasila, dan beberapa organisasi lainnya. (Arunda)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *