Atjeh HijauHeadline NewsSigom Atjeh

Kerusakan Ekosistem Rawa; Dari Tripa ke Singkil

Kayu sisa pembakaran di Rawa Tripa/ www.hutan-aceh.com

Kayu sisa pembakaran di Rawa Tripa/ www.hutan-aceh.com

AtjehLINK – Dua hutan gambut di Aceh yang bermanfaat untuk kehidupan manusia saat ini sedang dirusak oleh perusahaan perkebunan. Dua daerah tersebut adalah kawasan hutan Rawa Tripa yang berada di Nagan Raya dan Aceh Barat Daya serta kawasan hutan Rawa Singkil yang melindasi tiga kabupaten di Aceh; Aceh Singkil, Subulussalam dan Aceh Selatan. Kedua daerah hutan gambut tersebut berada dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang menjadi paru-paru dunia.

Kondisi Rawa Tripa saat ini hampir setengahnya tidak mungkin lagi diselamatkan. Ada banyak perusahaan sawit yang beroperasi di kawasan yang mempunyai luas 61.803 hektar tersebut. Sedangkan kawasan Rawa Singkil, yang luasnya 102.500 hektar, saat ini sedang mengalami pengrusakan dan akan bernasib sama dengan Rawa Tripa jika tidak ditanggulangi. Luas dua kawasan tersebut saat ini terus berkurang.

Sejak beberapa perusahaan perkebunan wasit beroperasi pada awal tahun 1990-an, kondisi Rawa Tripa setengahnya saat ini rusak total. Berdasarkan data yang ada, Rawa Tripa mempunyai cadangan karbon 50 sampai 100 juta ton, dan merupakan salah satu cadangan karbon terbesar di Aceh.

Januari lalu, AtjehLINK berkunjung ke Desa Kuala Seumayam yang terletak di dalam kawasan Rawa Tripa. Desa tersebut masuk ke dalam wilayah administrasi Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya. Kunjungan tersebut tepat dua bulan sebelum Pemerintah Aceh menetapkan Rawa Tripa sebagai kawasan lindung gambut.

Keputusan penting Pemerintah Aceh tersebut sebenarnya telah lebih dulu dituangkan dalam Qanun Nomor 19 Tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RTRWA). Sebelumnya Gubernur Aceh telah menandatangani Surat Nomor 590/33227 perihal tindak lanjut lahan eks PT Kalista Alam pada 1 September 2014 lalu, setelah perusahaan tersebut diputuskan bersalah oleh Pengadilan Negeri Meulaboh karena membakar lahan gambut seluas 100 hektar dari 1.605 areal usahanya. Harus disadari, kawasan lindung gambut yang ditetapkan tersebut sangat kecil dibandingkan seluruh luas kawasan Rawa Tripa yang harus diselematkan.

Seorang warga yang juga buruh lepas di PT Kalista Alam, Salmah (52 tahun), mengatakan perusahaan tempat dia bekerja masih beroperasi di wilayah larangan tersebut. “Aktifitas perusahaan di areal Suak Bahong masih ada,” katanya kepada AtjehLINK, Minggu (25/1/2015). Ia buruh harian lepas yang tinggal di barak kayu milik PT Kalista Alam.

Saat itu, Salmah baru kembali dari afdeling tempat ia membabat ilalang. Kerap ia mengerjakan itu sekira afdeling akan tiba masa panen. Perempuan kepala lima itu jelas letih. Bulir-bulir keringan yang mengalir dari kerutan dahinya ingin menyentuh tanah.

Dia bersikap ramah dan menyuguhkan dua gelas kopi untuk AtjehLINK dan untuk Ali, salah seorang warga Kuala Seumayam yang menemani AtjehLINK menjumpai Salmah. Awalnya Salmah memilih diam, seperti enggan berbagi cerita tentang Rawa Tripa tempat dia saban hari mengais rezeki.

Ali meyakinkannya untuk tidak takut berbagi cerita. “Kami hanya ingin tahu kondisi lahan milik perusahaan tempat emak bekerja setelah ada larangan aktifitas,” kata Ali. Sebelum menghuni barak Kalista Alam, Salmah warga satu desa dengan Ali.

Lokasi barak tempat Salmah menetap dikepung batang sawit dari segala penjuru. Yang dia tahu, lahan milik PT Kalista Alam memang bermasalah. Ia tahu setelah melihat plang besi yang menyatakan lahan tersebut bermasalah. Plang itu terletak di pinggir jalan menuju ke baraknya.

Namun, aktifitas perkebunan di kawasan terlarang itu tetap saja berjalan. “Perusahaan menggunakan tangan lain untuk memanen sawit, setelah dipanen tandan sawit dijual ke Kalista Alam,” kata Salmah.

Sejumlah pengusaha lokal, kata Salmah, juga mulai membuka perkebunan di sekitar areal tersebut. Mereka memanfaatkan masyarakat sekitar untuk membersihkan lahan. “Jarak antara hutan rawa yang dibuka untuk lahan baru dengan lahan bekas PT KA dekat sekali,” kata dia.

Bahkan, ada lahan yang saat ini masuk dalam kawasan terlarang yang diklaim oleh masyarakat sekitar kawasan. Seandainya dibolehkan, Salmah juga berharap bisa menggarap sedikit lahan itu karena dekat dengan barak huniannya. “Paling tidak saya punya dua hektar lahan milik sendiri,” kata Salmah.

Walau belum puas bercerita, Salmah dengan terpaksa harus meninggalkan kami dan kembali bekerja. Jelang senja baru ia kembali. Seperti terburu ia mengangkat gelas kopi yang ia suguhkan tadi ke dapur belakang. Kemudian ia kembali menemui kami yang masih menunggunya di halaman untuk sekedar minta maaf karena tidak bisa menemani kami lebih lama lagi.

Ali kemudian mengajak AtjehLINK berkeliling hingga ke pinggiran hutan yang berbatas dengan lahan milik Kalista Alam. Ia ingin menunjukkan bahwa benar hutan tempat ia bermain waktu kecil itu diambang kehancuran. Motor milik Ali diparkir sembarang di ujung titian penghubung afdeling. Dari tempat itu mulai nyata tampak kehancuran, tidak terhitung pohon tumbang saling menindih, semua terbakar menjadi arang. Tiga tahun lalu, kata Ali, dilahan itu masih mudah dijumpai tegakan pohon besar penopang rawa. Di tempat itu pula Ali sering memasang bubu, alat tangkap ikan tradisional.

“Sebelah sini sudah ditanami sawit dan sisanya belum sempat dibersihkan oleh perusahaan setelah dibakar,” kata dia. Kami menapaki lahan bekas dibakar tersebut. Angin rawa dan uap hawa panas terasa gerah di kulit. Tegukan air mineral pun tidak mampu menghalau panas nan gerah. Ali terus bercerita sambil melangkah pelan.

Ali pernah bekerja sebagai buruh di Kalista Alam. Menurut dia membuka lahan dengan membakar adalah cara paling efektif. Biaya yang murah dengan waktu yang cepat. Hanya saja, kata Ali, perlu diawasi untuk memastikan percikan api tidak terbang ke lahan gambut yang sudah ditanami sawit.

“Perusahaan pernah bilang ke saya agar lahan yang terbakar dibiarkan saja. Yang paling penting memastikan tidak terbakar areal di sampingnya yang sudah ditanami sawit,” kata Ali.

Sebelum dibakar, kata Ali, pada waktu kemarau lahan gambut yang menyimpan banyak air harus dikeringkan dulu dengan menggali kanal di setiap sisi lahan. Setelah dipastikan kering, baru hutan gambut siap dibakar.

Hampir dua jam kami berkeliling lahan yang sudah terbakar itu. Ali mengajak AtjehLINK kembali ke desanya yang berjarak tempuh 25 menit dari tempat tersebut. Sepanjang jalan tanah debu yang kami lalui, pemandangan hanyalah ribuan batang sawit yang tingginya sudah melebihi tiang listrik menuju Kuala Seumayam. Senja menggantung di ufuk barat ketika kami tiba di rumah Ali.

Sebuah keluarga sederhana, itulah pemandangan di rumah Ali. Kami disambut Samsul, bocah Ali satu-satunya yang masih kelas 2 sekolah dasar. Di dapur, istrinya memasak limbek, lele rawa khas Nagan Raya. Limbak itu hasil tangkapan Ali di Rawa Tripa yang belum dijamah perusahaan. Sampai sekarang limbek masih menjadi penopang ekonomi warga Kuala Seumayam. “Entah nanti,” kata Ali. Kami bergegas mandi, membasuh tubuh yang seharian diterpa panas dan gerah rawa yang sudah terbakar. Malam menyelimuti desa di tei sungai Tripa itu.

+++

Cerita tentang manfaat Rawa Tripa untuk kehidupan masyarakat dan lingkungan sebelum digempur perusahaan sawit masih membekas di setiap tetua desa yang sudah lama hidup di Rawa Tripa. Mereka melihat sendiri bagaimana siasat perusahaan saat awal operasi yang berakhir dengan kerusakan.

“Pada awal 1990-an, masyarakat diberi bibit sawit oleh pemerintah untuk ditanami. Padahal saat itu kebanyakan masyarakat masih menanami kakao,” kata Syamsuddin (48 tahun) kepada AtjehLINK.

Syamsuddin adalah Sekretaris Desa Babah Lueng Kecamatan Tripa Makmur. AtjehLINK menemui Syamsuddin di Muara Kuala Sikandang.

Saat itu, masyarakat berduyun-duyun membuka lahan di Rawa Tripa dan mulai menanam sawit. “Namun masih dalam skala kecil,” kata Syamsuddin.

Namun dalam waktu bersamaan perusahaan mulai melakukan operasi dalam skala besar. Dimulai dengan merintis jalan yang membelah hutan rawa. Akibatnya, ekologi rawa terusik, keanekaragaman hayati mulai hilang, perlahan. Gemuruh mesin menyamarkan raungan satwa yang terancam punah.

Di Rawa Tripa hidup beruang madu (helarctos malayanus), orangutan sumatera (pongo abeii), harimau sumatera (panthera tigris sumatrensis), buaya muara (crocodilus porosus), burung rangkong (buceros sp) dan satwa liar lainnya.

Dikutip dari greenjournalis.com, hasil penelitian Profesor Carel Van Schaik pada tahun 1996 menjelaskan, Rawa Tripa mempunyai kepadatan populasi orangutan tertinggi di dunia. Kemudian batu diikuti Rawa Kluet di Aceh Selatan dan Rawa Singkil.

+++

Apa yang sudah terjadi di Tripa saat ini juga sedang terjadi di Rawa Singkil. Amatan AtjehLINK di Buloh Seuma pada Maret 2014 lalu, ruas jalan dengan lebar 12 meter mulai dibuka membelah Rawa Singkil.

Zulbaili, Keuchik Desa Teungoh, Kecamatan Trumon, mengatakan selain jalan tembus Trumon-Buloh Seuma yang telah dibangun sepanjang 42 kilometer,jalan sepanjang 12 kilometer yang berbatasan dengan kawasan hutan juga telah dibuka atas usulan masyarakat.

“Sebelum jalan dibangun hanya transportasi air satu-satunya akses antar desa,” kata Zulbaili kepada AtjehLINK, Minggu (18/5/2014).

AtjehLINK berbincang di rumah Zulbaili. Sang empunya rumah menyuguhkan kopi, hujan mengguyur kampungnya hari itu. Setelah hujan reda dia mengajak melihat langsung ruas jalan yang dalam perencanaannya disebut jalan tembus dari Desa Raket ke Desa Teungoh. Dalam perjalanan tampak beberapa kebun milik masyarakat telah dibuka di pinggir kawasan hutan.

Dalam perjalanan kembali dari Buloh Seuma, AtjehLINK berpapasan dengan seorang warga bersepeda. Satu bibit sawit siap tanam tampak di belakang sepeda yang dia kayuh.

Sekira dua ratus meter keluar dari Buloh Seuma, kami langsung disambut jalan tanah yang membelah belantara berekositem Rawa. Saat hampir tiba ke Keude Trumon, di sebelah kiri jalan, sepetak kebun sawit kurang terawat terpampang di depan mata. Keterangan warga itu milik salah satu mantan Bupati Aceh Selatan.

Bupati Aceh Selatan, T Sama Indra mengatakan pembangunan jalan Buloh Seuma dimulai sejak tahun 2013. “Direncanakan tahun 2015 sudah mencapai Singkil,” kata dia di kantornya, Rabu (21/5/2013).

Berdasarkan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang dibahas tahun 2011 lalu, jalan tembus dari pusat Kecamatan Trumon ke Kemukiman Buloh Seuma adalah perpecahan dari rencana awal untuk membangun jalan yang menyambungkan Trumon-Buloh Seuma-Kuala Baro-Singkil sepanjang 70 kilometer.

Namun karena perbedaan jenis ekosistem berbeda diperlukan penyusunan dokumen AMDAL terpisah. Pemerintah Aceh, Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan dan LSM terkait setuju untuk memisahkan dua dokumen AMDAL tersebut.

T Sama Indra mengatakan, jika jalan tembus Buloh Seuma ke Singkil yang membelah hutan rawa itu dibuka, akan berdampak secara ekonomi. Biaya pengangkutan hasil pertanian dari Aceh Selatan akan lebih murah dan waktu tempuh akan lebih singkat menuju Sumatera Utara.

Jika dibandingkan, kerusakan Rawa Singkil Trumon belum separah Rawa Tripa. Namun mulai ada geliat perkebunan sawit skala besar di sana. Apa yang pernah terjadi di Rawa Tripa pada awal perkebunan sawit serupa dengan yang terjadi di Rawa Singkil saat ini. (Zamroe)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *