Berita PilihanHeadline NewsSeni Budaya

Gubernur: Museum Media Pelestari Budaya

MuseumBanda Aceh – Pemerintah Aceh, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh menggelar peringatan 100 tahun Museum Aceh. Kegiatan yang dirangkai dengan pengukuhan pengurus Asosiasi Meuseum Indonesia Daerah (AMIDA) Aceh ini, akan digelar selama enam hari (30 Juli-4 Agustus) dan dihadiri langsung oleh Ketua Asosiasi Museum Indonesia, Putu Supadma Rudana.

Gubernur Aceh, dr H Zaini Abdullah berharap, kehadiran sejumlah tokoh pada acara tersebut mampu mendorong Museum Aceh untuk terus berbenah dan tampil lebih prima, sehingga dapat meningkatkan daya tarik masyarakat untuk belajar sejarah serta meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, (Kamis, 30/7/2015).

“Oleh sebab itu, besar harapan kami, bahwa Pemerintah Pusat, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dapat memberikan perhatian bagi upaya pengembangan Museum Aceh ini,” ujar Gubernur, dalam sambutan singkatnya yang dibacakan oleh Asisten III Setda Aceh, Muzakar A Ghani SH.

Gubernur menambahkan, jika menyimak kembali sejarah Aceh, maka akan terlihat betapa panjangnya sejarah peradaban di daerah berjuluk Serambi Mekah ini, baik itu di masa pra Islam, masa perkembangan Islam, masa kolonial, masa revolusi, hingga di zaman modern ini.

Beragam peristiwa penting yang mewarnai Aceh pada masa itu telah terakulturasi dengan berbagai tradisi budaya daerah. Keberagaman tersebut juga melahirkan berbagai ilmu pengetahuan yang menyatu dalam ajaran Islam yang kental.

“Inilah yang menjadi salah satu tolok ukur mengapa Aceh layak dikatakan sebagai daerah yang memiliki keistimewaan.”

Perjalanan sejarah nan panjuang tersebut, menurut Gubernur telah meninggalkan berbagai jejak budaya yang dapat dijadikan sebagai sarana pembelajaran dan daya tarik pariwisata. Jejak budaya itu memiliki berbagai bentuk, baik benda (tangible), seperti bangunan, makam hingga benda bersejarah lainnya, maupun non benda (intangible), seperti aturan hukum, sastra, hikayat, seni budaya, dan lain sebagainya.

“Semua itu adalah bagian tak terpisahkan dari peradaban Aceh yang wajib kita jaga dan lestarikan. Karena itulah, peran museum sebagai lembaga pengawal sejarah harus terus kita dukung sehingga identitas bangsa tetap terjaga,” ujar Zaini.

Doto: Globalisasi Jangan Sampai Menghilangkan Budaya Asli

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga berpesan, hiruk pikuk persaingan ekonomi di era globalisasi dapat menghadirkan lompatan peradaban lintas negara, hal tersebut mampu meruntuhkan totalitas dan identitas budaya, untuk kemudian berubah menjadi tatanan global yang homogen.

Menurut Zaini, Indikasi ini dapat terlihat dari menghilangnya batas-batas kebudayaan, sehingga budaya asli mulai dilupakan. Jika kondisi ini terus berlarut, maka perlahan-lahan jati diri bangsa akan hilang tertelan oleh budaya luar.

Dengan demikian, lanjut Gubernur, generasi penerus bangsa dikhawatirkan tidak pernah lagi mendengar cerita kejayaan Aceh di masa Iskandar Muda, tidak paham makna benda-benda peninggalan sejarah, tidak peduli dengan seni budaya daerah, dan lupa pada kerja keras para pahlawan bangsa.

“Kalau saja hal ini terjadi, maka fondasi moral yang telah ditegakkan para ulama, perlahan-lahan akan rapuh. Tidak ada lagi kebanggaan pada budaya dan peninggalan sejarah. Yang ada hanyalah gemerlap musik hip hop, kemegahan gedung-gedung mewah, dan seni berekspresi yang bebas tak terkendali. Identitas ke-Aceh-an kita hanya cerita masa lalu yang dianggap tidak penting untuk dibahas lagi.”

Empat Langkah Hindari Degradasi Budaya

Gubernur berpesan, untuk menghindari degradasi budaya ini, penguatan lembaga-lembaga pelestari budaya harus ditingkatkan. Museum adalah salah satunya.

Untuk itu, pada peringatan 100 tahun Museum Aceh ini, Gubernur Aceh menganggap perlu untuk melakukan langkah-langkah penguatan museum Aceh. berikut ini adalah empat hal yang disampaikan oleh Gubernur Aceh dalam rangka menghindari terjadinya degradasi budaya lokal;

  1. Mendorong kembali ketertarikan masyarakat terhadap museum melalui kampaye cinta dan peduli museum. Kita perlu mengingatkan generasi muda untuk lebih banyak menggali sejarah Aceh dengan merujuk pada peninggalan sejarah yang ada di museum ini, sehingga anak-anak kita paham dan peduli tentang sejarah peradaban Aceh.
  2. Kita juga perlu melakukan revitalisasi museum Aceh demi terwujudnya museum yang dinamis dan berdayaguna sesuai standar ideal pengelolaan dan pemanfaatan museum. Pelayanan kepada pengunjung juga perlu ditingkatkan agar segala informasi yang dibutuhkan dapat diperoleh dengan mudah dan lengkap. Dalam hal ini, besar harapan kami, bahwa Pemerintah Pusat, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dapat memberikan perhatian bagi upaya pengembangan Museum Aceh ini.
  3. Benda bersejarah yang ada di museum ini harus kita perkaya, baik dalam hal koleksi, konservasi, preparasi serta informasi, sehingga museum ini memiliki koleksi di setiap peradaban.
  4. Sumber daya manusia pengelola museum Aceh perlu kita perkuat agar nantinya pengelolaan museum ini lebih variatif dan edukatif dengan sentuhan modernisasi sesuai tuntutan zaman.

Rangkaian Peringatan 100 Tahun Museum Aceh ini, juga digelar pameran berbagai koleksi museum nasional yang ada di Indonesia. Untuk itu, Zaini menghimbau agar masyarakat beramai-ramai datang ke museum Aceh untuk meningkatkan wawasan terhadap sejarah Aceh dan sejarah nasional.

“Selanjutnya, saya perlu mengingatkan kita semua tentang  hadih maja Aceh yang berbunyi, ‘Matee aneuk meupat jeurat, gadoh adat pat tamita’ (Mati anak ada makamnya, tapi mati adat dimana hendak dicari-red). Karena kita tidak ingin kehilangan adat dan budaya, maka sekali lagi, penguatan museum sebagai sarana pelestarian budaya dan benda bersejarah, harus kita perkuat,” pungkas Pria yang akrab disapa Doto itu.

sejumlah tokoh terlihat hadir dalam kegiatan tersebut, diantaranya Wakil Ketua DPRA, T Irwan Djohan, perwakilan unsur Forkorpimda,Kepala Dinas Syari’at Islam, Kepala Satpol PP dan WH, serta sejumlah sejarawan Aceh lainnya. (Arunda)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *