Berita PilihanHeadline NewsSeni Budaya

Kadisbudpar Aceh: Museum Aceh Berawal dari Paviliun Aceh

Bang RezaBanda Aceh – Paviliun Aceh yang dipamerkan pada Arena Pameran Kolonial pada tahun 1914 adalah cikal bakal Museum Aceh, saat ini. Usai memenangi beberapa medali pada pameran masa itu, F W Stammeshaus (Kurator Museum Aceh Pertama-red) mengusulkan agar Paviliun tersebut dibawa ke Aceh dan dijadikan Museum Aceh.

Hal tersebut diceritakan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Aceh, Reza Fahlevi, M Si, sebelum menyampaikan laporan kegiatan, selaku Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Museum Aceh.

Sebagaimana diketahui bersama, Museum Aceh didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, yang pemakaiannya diresmikan oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh Jenderal H N A. Swart pada tanggal 31 Juli 1915.

Saat itu, bangunannya berupa sebuah bangunan Rumah Tradisional Aceh (Rumoh Aceh). Bangunan tersebut berasal dari Paviliun Aceh yang ditempatkan di Arena Pameran Kolonial (De Koloniale Tentoonsteling) pada tanggal 13 Agustus – 15 November 1914, di Semarang.

“Pada pameran tersebut Paviliun Aceh berhasil mendapat 4 medali emas, 11 perak, dan 3 perunggu serta berhasil menyabet predikat sebagai Paviliun terbaik dan terlengkap,” terang Reza.

Atas keberhasilan tersebut, F W Stammeshaus (Kurator Museum Aceh Pertama-red) mengusulkan agar Paviliun Aceh  dibawa ke Aceh dan dijadikan sebuah museum.

“Akhirnya, pada 31 Juli 1915 atau tepatnya 100 tahun lalu  Paviliun Aceh dibawa ke Aceh dan diresmikan sebagai Aceh Museum,” tambah mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banda Aceh itu.

Dalam kesempatan tersebut, Reza juga menjelaskan tentang berbagai hal yang telah dilakukan oleh Museum Aceh dalam rangka mengoptimalkan peran dan fungsi museum. Untuk itu, Reza berharap agar semua pihak, baik pemerintah, swasta, budayawan, sejarawan serta tokoh masyarakat dapat berperan serta untuk menjaga citra dan fungsi Museum kebanggaan masyarakat Aceh ini.

“Museum Aceh ingin merubah wujud dirinya dengan peran dan image baru dalam mengedukasi dan memberikan pengalaman kepada generasi muda untuk mengenali identitas nasional, khususnya Aceh.”

Berbagai Kegaiatan Meriahkan Peringatan 100 Tahun Museum Aceh

Reza menjelaskan, peringatan 100 Tahun Meuseum Aceh juga diisi dengan beberapa kegiatan, diantaranya, pameran nasional, bekerjasama dengan enam museum, yaitu Museum Aceh, Meuseum Nasional, Meuseum Benteng Vrederburg, Meuseum Kebangkitan Nasional, Meuseum Sumpah Pemuda, Meuseum Perumusan Naskah Proklamasi.

Selain itu, kegiatan yang mengusung tema ‘Aceh untuk Indonesia Dalam Bingkai Sejarah Perjuangan Bangsa’ ini juga menggelar pameran sejarah perjuangan bangsa dan dokumentasi Museum Aceh  Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA), teatrikal outdoor ‘Visualisasi tokoh dan sejarah pahlawan.

Selanjutnya, pemutaran film sejarah dan film dokumenter (diantaranya, Film Jak Beut, Film Teuku Umar, dan Film Gampong Pande), Story Telling yang akan disampaikan oleh sejumlah tokoh dan sejarawan Aceh.

“Mulai besok (Jum’at, 31/7) para pengunjung dapat mendengarkan berbagai cerita terkait sejarah Aceh dan perjuangan Aceh yang disampaikan oleh sejumlah sejarawan dan tokoh Aceh. Selain itu, para pengunjung juga dapat mengikuti sejumlah perlombaan dan Bazaar, belajar membuat kriya dan kuliner Aceh.” pungkas Reza Fahlevi.

Hadir dalam kegiatan tersebut, sejumlah Wakil Ketua DPRA, T Irwan Djohan, Kepala Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA), Rektor UIN  Arraniry, para Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata se-Aceh serta sejumlah sejarawan dan tokoh Aceh lainnya. (Arunda)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *