Atjeh HijauBerita PilihanHeadline News

YARA: Pembangunan Payung Masjid Raya Tanpa Amdal

Perluasan MRBBanda Aceh – Selain mendapat sambutan dari berbagai kalangan, rencana pemasangan payung di halaman Masjid Raya Baiturrahman (MRB) juga tak kurang menuai protes. Kali ini protes keras dilontarkan Direktur Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), Safaruddin SH. Menurutnya, pemasangan payung di halaman masjid kebanggaan rakyat Aceh itu, selain menghilangkan identitas khas, juga tidak ada analisa mengenai dampak lingkungan (AMDAL).

“Setiap proyek wajib ada Amdal, apalagi proyek monumental semacam Masjid Raya. Kami melihat ada kesan proyek ini tanpa studi yang matang dan sekedar menghabiskan anggaran untuk kepentingan kelompok tertentu,” kata Safaruddin kepada wartawan di Banda Aceh, Selasa (4/8/2015).

Ditambahkan Safar, seharusnya sebelum memutuskan untuk dipasang payung, harus dilakukan bagaimana dampaknya terhadap lingkungan. Misalnya, kata dia, bagaimana kondisi angin di Banda Aceh dan kemungkinan payung dapat diterbangkan atau tumbang. Jika itu terjadi, sebut Safar, tentu sangat berbahaya bagi jamaah dan penduduk sekitar.

“Apalagi, kami dengar dari anggota dewan kerangka payung itu merupakan duplikasi dan tidak diproduksi oleh pabrik berpengalaman. Hanya terpalnya saja yang original dan diimpor dari Jerman. Nah, ini kan cukup beresiko,” kata Safar.

Selain itu, ujar Safar lagi, untuk mengutak-atik bangunan kebanggaan masyarakat Aceh, Pemda seharusnya melakukan hearing (dengar pendapat) dengan masyarakat luas yang terwakili berbagai unsur.

“Jangan bersikap suka-suka gua-lah. Jangan sampai sampai uang habis, keindahan masjid raya hilang. Ada baiknya Gubernur Aceh melakukan studi banding ke Masjid Agung Semarang. Di Masjid sana, sudah dipasang payung tapi tak pernah dibuka atau dipakai,” ketus Safar.

“Maka, untuk itu, YARA mendesak Gubernur Aceh untuk menunda pemasangan payung di halaman MRB hingga semua tahapan dilakukan. Selain studi AMDAL, juga perlu digelar ajang dengar pendapat dengan rakyat terkait hal  itu,” kata Safaruddin.

“Setelah dilakukan studi dan dibuat perencanaan secara matang, silahkan dilanjutkan pembangunannya. Kalau tetap dilanggar, YARA akan melakukan gugatan ke pengadilan atas pelanggaran yang terjadi”, ujar dia.

Safaruddin mendukung Pemda untuk melakukan perluasan dan pengembangan MRB sehingga menjadi land mark Aceh. “Tapi bukan dengan meniru (plagiat) karya yang sudah ada. Buatlah terobosan baru yang mencegangkan dunia,” pungkasnya.

Selain YARA, penolakan untuk pemasangan payung di pelataran Masjid Raya Baiturrahman juga datang dari kalangan lain. Salah satu bentuk penolakan karena dinilai dapat mengubah estetika dan ruang terbuka hijau di masjid tersebut dituangkan melalui petisi online pada laman www.change.org. Petisi yang diprakarsai oleh seorang warga bernama Dendi Montgomery sejak 30 Juli lalu, sudah ditandatangani oleh 500 orang lebih.

Diberitakan sebelumnya, Pemerintah Aceh sudah memulai pembangunan yang disebut-sebut untuk mempercantik Masjid Raya Baiitrurahman termasuk memasang payung elektrik seperti penampakan di masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi. (Baca: Proyek Perluasan Masjid Raya Baiturrahman, Dimulai). (SP)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *