Berita PilihanHeadline NewsSigom Atjeh

Kondisi Sosial Politik Mengancam Perdamaian Aceh

Panggung Silaturrahmi Aktivis Aceh

Panggung Silaturrahmi Aktivis Aceh

Banda Aceh – Sejumlah kebobrokan Pemerintahan Aceh paska perdamaian antara RI dan GAM terkuak dalam Silaturrahmi Aktivis Aceh Lintas Generasi yang berlangsung pada Sabtu (8/8/2015), kondisi politik sosial yang terungkap melalui orasi dan puisi tersebut dinilai dapat mengancam perdamaian dan pembangunan Aceh masa mendatang.

Melalui sebuah puisi kritis, Wiratmadinata, SH, MH, aktivis yang kini dekan hukum Universitas Abulyatama mengungkapkan serangkaian kondisi negatif politik dan sosial di Aceh, seperti pemimpin yang masih disibukkan dengan saling berebut kekuasaan, padahal masih banyak urusan rakyat yang harus diselesaikan.

Bukan hanya itu, dalam puisi Wira secara gamblang disebutkan bahwa praktek korupsi, kolusi dan nepotisme dalam tubuh Pemerintahan Aceh masih mudah ditemui, terutama dalam paket-paket proyek di Aceh.

Sebelumnya dalam orasi politik dihadapan undangan yang umumnya politikus itu, inisiator acara Muhammad MTA menilai bahwa kondisi Aceh belumlah seperti yang diharapkan, terutama dalam mengisi damai yang sudah 10 tahun berjalan.

Katanya lagi, di kalangan Pemimpin Aceh sendiri yang berasal dari kalangan mantan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) juga tidak menunjukkan sikap sebagaimana pemimpin seharusnya.MTA melihat yang memimpin Aceh saat ini masih menunjukkan sikap kekanak-kanakan.

Menjelang akhir acara, Afdhal Yasin yang dikenal sebagai Bapak Aktivis mengungkapkan kegelisahannya, menurutnya revolusi sosial akan segera terjadi kalau kondisi Aceh masih seperti disebutkan Wira dan MTA.

Alasannya,di gampong-gampong rakyat hari ini masih lapar, sementara Pemimpin semakin kenyang. Mereka sibuk berebut kekuasaan dan berselisih faham sesamanya. Akhirnya, akan datang waktu rakyat akan mengejar pemimpinnya.”Itulah revolusi sosial,” tekannya.

Dalam acara bertajuk ‘Berdamai Dengan Masa Lalu, Menantang Lagi Masa Depan’ ini dihadiri oleh kalangan politisi seperti Nasir Djamil, Irwan Djohan, Abdullah Saleh, Mantan Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar, Zaini Djalil, Sofyan Dawood dan ratusan aktivis Aceh lain dari setiap generasi. (Zamroe)

 

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *