Atjeh HijauHeadline NewsSigom Atjeh

Empat Anggota Sindikat Pedagang Kulit Harimau Sumatera Ditahan Polisi

Kasubdit Dirkrimsus Polda Aceh AKBP Mirwazi, SH. MH

Kasubdit Dirkrimsus Polda Aceh AKBP Mirwazi, SH. MH

Banda Aceh – Empat tersangka tindak pidana perdagangan satwa dilindungi pada hari Sabtu 8 Agustus 2015, diringkus Tim Gabungan Polda Aceh bersama Polres Aceh Tamiang  di Gampong Jambe Rambung, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang.

Dalam konferensi Pers yang digelar Senin (10/8/2015) di Mapolda Aceh, Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol T. Saladin melalui Kasubdit Ditreskrimsus AKBP Mirwazi, SH. MH, mengatakan, berdasarkan informasi dari informan serta masyarakat, pihaknua melakukan penangkapan empat orang tersangka pada pukul 14.50 WIB.

“Kita temukan di rumahnya, ada harimau yang sudah dibelah, yang sudah tinggal kulitnya, tulang, dan taringnya. Jadi ada tiga jenis organ yang telah dipisahkan dari harimau tersebut”, katanya.

Setelah penangkapan, kata dia, polisi juga memintai keterangan tersangka. Menurut pelaku, harimau tersebut didapatkan di kawasan hutan Gampong lintang, Kecamatan Pindeng Kabupaten Gayo Lues.

Ia menambahkan, tersangka menangkap harimau sumatera menggunakan jerat rusa. “Jadi harimaunya tanpa rusak atau cacat, maka kulit yang kita liat masih mulus, yang panjangnya diukur dari ujung kepala sampai ke ekor mencapai satu meter lima puluh centimeter, gigi taring empat, dan tulang belulang dengan tengkoraknya, lengkap dan masih utuh”, ujar dia.

Mirwazi menguraikan, empat tersangka bernama Baharuddin (42) adalah pemilik rumah yang digeledah petugas di desa Rambung kecamatan Bandar Pusaka, Amir (45) desa Alue Pinang, M. Sai alias Ajo (34) warga Alue Pinang dan Sahruna warga desa Jambe rambung.

Ia menambahkan, keempat pelaku memiliki peran berbeda-beda, seperti Amir yang bertugas mencari pembeli barang-barang yang sudah ditangkap kelompoknya.

AKBP Mirwazi menyebutkan cara mereka memburu, setelah tertangkap mangsanya mereka langsung belah di dalam hutan, di buang dagingnya dan seterusnya dibawa keluar hutan belantara.

“Para tersangka dikenakan pasal 21 Ayat 2 huruf a dan b Undang-undang RI No. 05 tahun 1990, tentang konservasi Sumber daya Alam Hayati dan Ekosistemnya J0 Pasal 55,56 KUHP dengan ancaman maksimal lima tahun penjara, ” pungkasnya. (Taufan Mustafa)

 

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *