Palangka dari UdaraAtjehLINK – Bentangan Pulau Kalimantan tampak begitu datar dari udara. Cincin Api Pasifik seolah mengelakkan jalurnya hingga Borneo tak memiliki gunung berapi.

Kepulan asap segera menghapus kesan pertama yang indah. Kelindan asap mengusik tersebar rata mengepul, memenuhi segenap penjuru sudut pandang. Aku menyaksikan langsung pemandangan mengkhawatirkan itu dari kabin pesawat Lion Air Boeing 737-800 yang membawaku dari Jakarta.

Kini, jarak antara aku dengan bencana asap adalah kaca jendela pesawat, bukan lagi layar kaca. Kecemasan yang terasa meningkat seiring berkurangnya jarak antara aku dengan asap. Lebih nyata dan sungguh mengintimidasi.

Pesawat mendarat mulus di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, tepat pukul 14:00 WITA. Bandara kebanggaan masyarakat Kalimantan Tengah yang diambil dari nama Gubernur pertamanya.

Seperti kebanyakan bandara lain di Indonesia, kejaran para sopir taksi yang menawarkan jasa menyambut. Lembar kertas berisi nama penumpang yang dijemput terpampang mengisi sebagian sudut pandang. Para penumpang menjadi gula bagi semut-semut yang terdiri dari para sopir taksi yang menawarkan angkutannya sebagai pilihan menjangkau tujuan. Ada sesuatu yang berbeda di Tjilik Riwut, kehadiran tukang ojek yang terlibat dalam perburuan penumpang bersanding dengan keberadaan sopir taksi.

Ingin istirahat sebentar, aku memutuskan duduk di ruang tunggu bandara. Tiba-tiba seorang lelaki berwajah sangar dan berperawakan gempal menghampiri, lamunanku pecah berkeping saat mataku menilik sosoknya. Tulisan ‘Ojek Bandara’ yang tersemat di rompi khusus berwarna hijau-stabilo yang dikenakan, membantuku mengenali profesinya.

Gaya berpakaiannya tak mencukupi syarat kerapian untuk ukuran orang yang bekerja menjual jasa. “Mau kemana mas? Boleh saya antar?” ujarnya melempar dua pertanyaan sekaligus. Kesan bersahabat yang terbit dari suaranya meruntuhkan penilaianku atas penampilannya. Sementara itu, para supir taksi yang sedari tadi mengejarku terlihat sudah mulai mengarahkan target ke penumpang lain.

“Sebentar ya, Bang…” jawabku sambil meregangkan otot-otot di sekujur badanku yang terasa kaku. Ia mengalihkan perhatiannya dariku. Namun, sesekali ia mondar-mandir seolah mengawasi keberadaanku dengan tatapan waspada. Mungkin ia khawatir ada tukang ojek lain atau sopir taksi lain yang akan menyambar kesempatannya memperoleh pendapatan. Beberapa kali ia kembali menanyakan kesediaanku menggunakan layanannya sebagai pilihan. Setelah beberapa kali ia menghampiriku, akhirnya, aku membulatkan keputuskan untuk menggunakan jasanya.

Dalam perjalanan menuju hotel tempatku menginap, pria yang akhirnya kuketahui bernama Darma itu bercerita panjang-lebar tentang kotanya. Tak cuma kelebihan, kekurangannyapun ia kisahkan. Kesan supel tertangkap dalam nada bicaranya. Setidaknya, aku menemukan orang yang mempromosikan tempat baru ini secara berimbang.

“Sudah mulai kabut asap, Mas… Seharusnya jangan datang sekarang ke Palangka. Musim panas banyak asap,” ujarnya. Masyarakat Palangkaraya lebih sering menyebut daerahnya dengan singkat, Palangka. Palangka merupakan bahasa masyarakat Dayak yang memiliki arti Tempat Suci.

Keramahan Bang Darma menambahkan kesan nyaman perjalananku di tengah kepung kabut asap yang mengepul. Masyarakat disini terasa begitu terbuka dan menerima pendatang dengan sangat ramah. Bagiku, keramahan penduduk adalah modal awal untuk menjadi daerah tujuan wisata.

Namun, hal lain yang juga tak kalah penting adalah kerapian. Sebagai tukang ojek bandara, tingkat kerapian Bang Darma akan membuatnya ditinggalkan begitu saja oleh calon penumpang. Menurutku, penting baginya mendandani penampilannya yang lusuh.

Satu hal yang juga menjadi catatan, Bandara Tjilik Rriwut adalah satu-satunya bandara di tingkat provinsi yang memberi izin kepada ojek untuk masuk dan mencari penumpang di dalam kawasan bandara. Jika dikelola dengan baik, maka ini akan menjadi keunikan tersendiri.

Sebagai kota yang memiliki julukan Kota Cantik, Palangkaraya harus benar-benar konsisten membuktikan hal tersebut ‘di pintu masuk rumahnya’, bandara. Kehadiran ojek di bandara harus didandani lebih rapi dan apik untuk melengkapi nilai keramahan dan keasrian sebagai modal yang telah dimiliki.

Jika kota ini ingin menjaga eksistensi sebagai Kota Cantik dengan segala keunikannya, maka memberikan atribut khusus yang mencerminkan adat-istiadat Palangkaraya kepada para tukang ojek mestilah menjadi prioritas; Sesuatu yang khas untuk dikenang para pengunjung, bukan sekedar rompi seragam bandara yang terlihat terlalu biasa karena dapat ditemukan di tempat lain.

Hijaunya kota (bila tidak terjadi kabut asap) adalah suatu nilai tersendiri. ‘Cantik’ pada kata Kota Cantik, adalah akronim dari Terencana, Aman, Nyaman, Tertib, Indah dan Keterbukaan, sudah sangat terasa saat para pendatang mendapatkan sambutan ramah dari para penduduk.

Namun, makna cantik yang sesungguhnya belum benar-benar dirasakan oleh para pendatang saat berada di depan pintu masuk ke Kota Palangkaraya.

Pemerintah daerah harus segera membenahi dan mendandani bukan hanya para tukang ojek tetapi Pemda juga harus memberi perhatian dengan melakukan peremajaan alat transportasi yang digunakan para tukang ojek. Agar para tetamu menemukan kenyamanan sejak pandangan pertama. (Arunda)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *