Berita PilihanHukum

Saksi A de Charge Ungkap Kebohongan Saksi dari JPU

SPS1Aceh Barat – Dua orang saksi yang dihadirkan PT Surya Panen Subur, membantah keterangan saksi Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang telah disampaikan pada persidangan sebelumnya, (Senin, 31/8/2015).

Hal tersebut diungkapkan oleh Jamal, selaku Kepala Puskesmas Pembantu Sumber Bakti dan Lusinto, operator alat berat Kobelco. Keduanya menjadi saksi A de Charge (Saksi meringankan) dalam sidang lanjutan kasus tuduhan pembakaran kebun kelapa sawit oleh PT Surya Panen Subur (PT SPS) dalam persidangan lanjutan di PN Meulaboh.

“Akhirnya kami bisa membuktikan bahwa alat bukti awal yang dihadirkan penyidik, ternyata tidak sesuai dengan fakta sebenarnya. Untuk itu, kami berharap fakta ini bisa menjadi pertimbangan majelis hakim,” ungkap Rivai Kusumanegara yang dijumpai usai persidangan.

Rivai selaku kuasa hukum PT SPS menambahkan, keterangan Jamal dan Lusinto telah berhasil mengungkapkan kebohongan yang dilakukan saksi yang sebelumnya yang dihadirkan oleh JPU sangat penting untuk dalam perkembangan kasus ini.

“Terungkapnya kebohongan dua saksi yang dihadirkan JPU sangat penting untuk menguak kebenaran dari kasus ini. Apalagi, fakta ini sempat menjadi pembahasan pada saat penyidikan di KLH,” tambah Rivai.

Di hadapan majelis hakim yang diketuai oleh Rahma Novatiana dan hakim anggota yaitu Muhammad Al-Qudri dan Fakhri Ihsan, Jamal mementahkan keterangan Samsinar. Menurut Jamal, pada bulan Maret-April 2012, yakni pada saat kebakaran, tidak pernah ada warga yang datang karena mengaku terkena Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA).

“Semua itu, bisa dilihat dari rekam medis Puskesmas,” jelas jamal dihadapan Majelis Hakim.

Tim Kuasa Hukum PT SPS kemudian mempertanyakan kebenaran menngenai seorang warga bernama Samsinar yang berobat ke Puskesmas. Menjawab pertanyaan tersebut, Jamal dengan tegas membenarkan.

“Benar, namun Samsinar berobat jauh setelah peristiwa kebakaran terjadi. Itupun bukan dengan keluhan ISPA, namun karena mual dan tidak memiliki nafsu makan,”

Atas keluhan tersebut, pihak Puskesmas kemudian melakukan diagnosis. Antara lain dengan bantuan alat tensi pengukur tekanan darah, stetoskop, dan thermometer.

“Diagnosis kami, Ibu Samsinar menderita kurang darah. Lalu kami memberi multivitamin,” kata Jamal.

Trimoelja D Soerjadi, salah seorang kuasa hukum PT SPS kemudian bertanya, apakah Samsinar pernah mengeluh karena ISPA? Pertanyaan ini tegas dijawab Jamal, “Tidak pernah!”

Keterangan Jamal, sekaligus mematahkan keterangan Samsinar. Dalam kesaksian sebelumnya, Samsinar mengaku sebagai warga lokal dan terkena ISPA akibat kebakaran. Samsinar, juga mengaku berobat ke Puskesmas di Desa Sumber Bakti.

Lusinto Bantah Keterangan Suratman

Sementara Lusinto mengungkapkan kebohongan yang dilakukan saksi sebelumnya, yaitu Suratman. Saat ditunjukkan foto yang memperlihatkan dirinya berpose bersama Suratman dengan latar belakang alat berat Kobelco, Lusinto terkejut karena foto tersebut justru dijadikan alat bukti di persidangan.

Pasalnya, lanjut Lusinto, ketika bertemu dirinya, Suratman sama sekali tidak menyinggung tentang peristiwa kebakaran yang terjadi di lahan milik PT SPS. Menurut Lusinto, sebelum berfoto, Suratman bertanya mengenai kemungkinan bahwa dirinya akan menyewa Kobelco. Lusinto bersedia berfoto, karena dia melihat ada peluang bisnis tersebut.

“Saya mau saja diajak berfoto dua kali, karena ada kemungkinan alat berat ini disewa orang lain,” kata Lusinto.

Kesaksian Lusinto, sekaligus membantah keterangan Suratman. Dalam persidangan sebelumnya, Suratman mengaku, bahwa pada hari pertama terjadinya kebakaran, dirinya berkeliling dengan sepeda motor.

Pada saat itulah dia melihat Kobelco yang diparkir di pinggir jalan. Ketika itu, Suratman bertanya kepada Lusinto, apakah si operator Kobelco tersebut  akan membersihkan ranting-ranting atau tidak.

Ketika itu, menurut pengakuan Suratman, sang operator Kobelco (yang akhirnya diketahui bernama Lusinto) mengatakan, bahwa dirinya tidak perlu membersihkan, karena lahan tersebut akan dibakar.

“Penjelasan Lusinto sangat penting, karena menguak kebenenaran yang ada. Apalagi, foto tersebut sempat menjadi alat bukti dan dipajang dimana-mana oleh penyidik,” kata Rivai setelah persidangan. (Arunda)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *