AgamaBerita PilihanHeadline News

Revisi Desain, MRB Baru Jadi lebih Hijau

MRB2Banda Aceh – Desain baru Masjid Raya Baiturrahman akan lebih terlihat hijau dan asri. Beberapa bagian halaman yang sebelumnya didesain dengan marmer akan diganti dengan rumput. Sementara itu, jumlah payung hidrolik akan tetap sama, yaitu 12 unit. Enam unit payung akan dipasang di halaman bagian depan Masjid, tiga unit payung di sisi utara dan tiga unit di sisi selatan Masjid.

Hal ini terungkap dalam ekspose perkembangan terbaru pembangunan perluasan Masjid Raya Baiturrahman (MRB) Banda Aceh, yang dilakukan oleh PT Waskita selaku pelaksana pembangunan MRB, di hadapan Gubernur Aceh, dr H Zaini Abdullah dan para pimpinan unsur Forkorpimda Aceh yang digelar di ruang pertemuan Meuligoe Gubernur Aceh, (Senin, 7/9/2015).

“Perubahan desain ini kita lakukan setelah mendengarkan masukan dari berbagai pihak tentang tampilan yang sebelumnya kita publish ke masyarakat beberapa waktu yang lalu,” terang Heri, perwakilan dari pihak PT Waskita.

Sementara itu, Sulaiman Abda selaku Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) mengharapkan, agar pihak kontraktor dapat menjalankan proyek sesuai dengan kesepakatan yang telah ditandatangani dalam Memorandum of Understanding (MoU).

“Kami berharap segala hal yang telah disepakati dalam MoU dapat dijalankan dengan baik. Untuk itu, kami dari DPRA, setiap bulannya akan selalu meminta keterangan dari kontraktor terkait dengan perkembangan pembangunan Masjid kebanggaan Rakyat Aceh ini,” ujar Sulaiman Abda.

Sementara itu, Gubernur Aceh berharap agar di areal MRB tidak mengakomodir para merokok karena hal tersebut akan mengganggu kenyaman pengunjung dan keindahan MRB

“Sebagai tempat ibadah, maka Masjid adalah tempat yang sangat ekstraordinary, sehingga sudah sepatutnya rokok dilarang di kawasan Masjid. Sudah menjadi pemandangan biasa, jika suatu daerah diperbolehkan merokok, maka puntung rokok akan berserakan walaupun sudah disediakan tempat pembuangan khusus,” ujar pria yang akrab disapa Doto itu.

Sepakat Opsi Ketiga

Dalam kesempatan tersebut, pihak perencana sempat menawarkan beberapa opsi terkait letak dan penggunaan payung hidrolik raksasa di halaman Masjid Raya. Namun gubernur dan para peserta rapat akhirnya menyepakati, sebanyak 12 payung raksasa yang akan digunakan adalah payung berukuran 24 meter x 24 meter. Ketinggian payung jika dikembangkan adalah 16 meter dari permukaan tanah.

Diawal pertemuan, pihak perencana menawarkan beberapa opsi tipe payung yang akan dipasang pada areal Masjid. Opsi tersebut ditawarkan oleh pihak perencana setelah mendengarkan berbagai masukan dari masyarakat.

Opsi pertama adalah pemasangan enam payung besar pada bagian depan (24m x 24m), tiga payung kecil (15m x 15m) pada sisi utara, pada bagian selatan masjid. Opsi ini yang paling banyak dikritisi oleh masyarakat karena dianggap dapat menutupi keindahan MRB.

Opsi kedua adalah 6 payung kecil dipasang pada bagian depan dan masing-masing 3 payung besar di sisi utara dan selatan MRB. Opsi ini ditawarkan oleh perencana untuk menjawab kritikan masyarakat, yaitu agar keindahan masjid tidak tertutup bentangan payung besar. Namun kelemahan opsi ini adalah kurang maksimalnya jumlah jama’ah yang dapat ternaungi payung pada bagian depan.

Opsi terakhir adalah pemasangan 12 payung besar, yaitu 6 di halaman depan dan masing-masing 3 payung di sisi utara dan selatan MRB. Dalam hal ini, Khalidin selaku penanggungjawab proyek menjelaskan, kekhawatiran sebahagian masyarakat bahwa keindahan Masjid Raya akan tetutup akan dijawab, yaitu dengan melebarkan jarak payung’ yaitu ke sisi utara dan selatan halaman bagian depan MRB.

“Posisi pendirian payung akan kita geser, sehingga keindahan Masjid Raya tidak akan terganggu dengan keberadaan payung-payung raksasa tersebutn,” terang Khalidin.

Menanggapi hal tersebut, Dot Zaini menyepakati opsi ketiga yang disampaikan oleh pengembang. “Jika memang dapat digeser lebih melebar, maka lebih baik opsi ini yang kita sepakati, karena selain bentangan payung akan sama lebar, tingi besar payung juga akan sama. Hal ini tentu saja akan memperindah nilai estetika Masjid yang penuh dengan nilai sejarah ini,” ujar Gubernur.

Selain itu, lanjut Doto Zaini, jumlah jama’ah yang dapat ditampung dan ternaungi payung akan jauh lebih besar, saya kira ini lebih memiliki banyak manfaat. Secara estetika terlihat indah dan secara fungsi juga lebih bermanfaat, tambah lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara itu.

Para hadirin terlihat sependapat dengan pertimbangan dan penjelasan dari Gubernur Aceh, terkait dengan pemilihan opsi ketiga dari beberapa opsi yang ditawarkan oleh pihak perencana pembangunan dan perluasan MRB.

Sementara itu, Prof Syamsul Rizal, Rektor Unsyiah menyarankan, demi menjaga kebersihan keamanan dan ketertiban di MRB, Pemerintah Aceh harus merekrut dan melatih petugas khusus Masjid yang nantinya akan menjadi pengawas dan pihak yang menyampaikan berbagai himauan, diantaranya pelarangan merokok di areal MRB. Selain itu para petugas yang direkrut nantinya juga diberikan pemahaman yang memadai tentang sejarah MRB.

“Sehingga nantinya para petugas juga akan menjadi guide atau pemandu bagi wisatawan yang datang dan ingin mengetahui sejarah singkat Masjid Baiturrahman.”

Sejumlah tokoh yang hadir juga sempat menyampaikan beberapa saran terkait pembangunan MRB, diantaranya adalah dari Ketua DPRK Banda Aceh, Arief Fadillah, yang menyarankan agar MRB baru harus ramah bagi disabilitas. Untuk itu Arief berharap agar sarana yang dibangun memberikan kemudahan akses bagi para penyandang disabilitas.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Wakil Ketua DPRA, Sulaiman Abda, Kapolda Aceh, Perwakilan Kodam Iskandar Muda, Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman, Rektor Universitas Syiah Kuala, Waskita, sejumlah Kepala SKPA, para Staff Ahli dan Kepala Biro dijajaran Setda Aceh, Ketua DPRK Banda Aceh. (Arunda)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *