Berita PilihanHeadline NewsHidup Sehat

Peredaran Gelap Narkoba Menyasar dan Melibatkan Anggota Keluarga

KakaoBanda Aceh – Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) yang diwakili oleh Kasubdit Masyarakat Perdesaan Direktorat Pemberdayaan Alternatif BNN Hendrajid PW, S.Sos, MM, MSi mengungkapkan peredaran gelap Narkoba telah menyasar dan melibatkan anggota keluarga di masyarakat pada kawasan rawan Narkoba baik di pedesaan, pesisir maupun perkotaan.

Hal itu diungkap Hendrajid dalam rapat kerja monitoring dan evaluasi semesteran bidang pemberdayaan alternatif masyarakat perdesaan di di UPT BPP, Kuta Malaka, Kabupaten Aceh Besar (30/9/2015).

Sementara berdasarkan dari data Polda Aceh 2015 diketahui bahwa banyak penanam Ganja di Aceh yang menyalahgunakan kawasan hutan lindung untuk menanam Ganja. Padahal potensi kawasan hutan lindung di provinsi Aceh merupakan kawasan hutan lindung terbesar di pulau Sumatera yaitu 24 persen hutan lindung.

Oleh karena itu ia mengajak peran serta seluruh instansi pemerintah, swasta dan komponen masyarakat dalam P4GN yang diberikan ruang seluas-luasnya untuk menciptakan lingkungan yang bebas dan bersih dari ancaman bahaya Narkoba.

“Jadi mari kita memberikan rasa aman kepada masyarakat dan ini telah diamanatkan dalam UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang peran serta masyarakat,” kata Hendrajid.

Menurutnya, dalam rapat kerja ini BNN melakukan monitoring atau pemantauan ke pilot project alternative development (TA 2013 dan TA 2014) melalui kegiatan alih fungsi lahan ganja dan petani di sekitar penamaman Ganja di kemukiman Lamteuba. Berdasarkan hasil pantauan, bahwa Aceh Besar khususnya kemukiman Lamteuba, hingga hari ini masih ditemukan ladang-ladang ganja. Sebulan yang lalu ada 24 hektar lahan Ganja di lokasi ini.

“Namun demikian, bukan berarti program AD BNN ini gagal, karena penanamnya bukan petani binaan BNN termasuk lahan yang ditanami Ganja bukan lahan binaan BNN,” tegasnya.

Itu artinya kata Hendrajid, masih banyak pekerjaan pemberdayaan alternatif sampai 2019 nanti yang akan terus memprioritaskan Lamteuba menjadi pilot project BNN dalam mengurangi produksi ganja di Aceh.

Diungkapkan, dari hasil monitoring sehari sebelumnya yakni Selasa (29/9), Tim BNN melihat masih banyak lahan-lahan yang kurang terawat meskipun tanaman binaan BNN (Kopi dan Kakao) juga tetap hidup. Kurangnya kesadaran petani merawat lahannya dari rumput dan ilalang menjadi penghambat dan kendala pertumbuhan tanaman.

Tetapi ada juga lahan kakao yang berhasil, contohnya, lahan binaan milik bapak Zainuddin dari Gampong Lamteuba Droei, nampak terlihat subur, terawat dan sebagian telah memberikan manfaat kesejahteraan, seperti tanaman tumpangsari cabe dan jahe.

“Nah, begitu uletnya, bapak Zainuddin menjadikan hasil penjualan itu untuk menopang biaya produksi,” kata Hendrajid menceritakan hasil pantauannya dilapangan.

Diungkapkan, melalui peran serta para pemangku kepentingan dan petani di Lamteuba, upaya P4GN diejawantahkan dalam bentuk partisipasi masyarakat dan stakeholder dalam bentuk program dan kegiatan.

Muncul Penggiat Anti Narkoba

Sementara program dan kegiatan tersebut menjadikan masyarakat dan stakeholder tidak hanya sebagai penerima manfaat program, namun sekaligus sebagai pelaksana (Penggiat Anti Narkoba) yang secara partisipatif dan aktif menciptakan lingkungan yang sehat dan terhindar dari aktifitas peredaran gelap Narkoba.

Melalui partisipasi ini pula katanya, diharapkan muncul banyak penggiat anti narkoba yang tidak takut melaporkan aksi penanaman Ganja dan menjangkau penyalahguna narkoba dalam rangka rehabilitasi 100.000 penyalah guna narkoba di sekitar desa dan pemukiman mereka.

Di Provinsi Aceh hingga bulan September ini Polda Aceh terus melakukan operasi eradikasi ganja dan melakukan penyitaan lahan. Kegiatan itu didukung pula partisipasi dari kalangan TNI, seperti eradikasi lahan Ganja di Aceh Utara, Aceh Besar dan Gayo Lues.

Bahkan kata Hendrajid,  dari berbagai media diberitakan hingga September 2015 ini Polda Aceh telah menyita lahan kurang lebih 91 hektar di provinsi Aceh. Salah satu dampak program pemberdayaan alternatif adalah terbinanya masyarakat di kawasan perdesaan di sekitar lokasi penanaman Ganja.

Hal itu dilakukan melalui peningkatan kesadaran dan partisipasi aktif mereka untuk melaporkan setiap aksi-aksi yang mencurigakan di sekitar wilayah mereka,  mulai dari aktifitas orang asing di hutan lindung, pengangkutan hasil hutan pada malam dan dini hari sampai penanaman gelap ganja di sekitar lembah dan lereng gunung Seulawah.

“Pelaporan masyarakat ini tentunya membantu Polri untuk mengungkap lahan-lahan ganja di kemukiman Lamteuba,” demikian kata Hendrajid PW. (Arunda)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *