Atjeh HijauBerita PilihanHeadline News

134 Kota di Dunia Termasuk Banda Aceh Kampanye Global March

Sejumlah pegiat lingkungan mengusung poster kampanye perlindungan badak dan gajah sumatera dalam aksi di bundaran simpang lima, Banda Aceh, Minggu (04/10/2015). AtjehLINK | sd

Sejumlah pegiat lingkungan mengusung poster kampanye perlindungan badak dan gajah sumatera dalam aksi di bundaran simpang lima, Banda Aceh, Minggu (04/10/2015). AtjehLINK | sd

Banda Aceh – Seratus-an pegiat lingkungan dari lintas komunitas, meggelar aksi kampanye perlindungan badak dan gajah Sumatera di Banda Aceh, Minggu (04/10/2015). Kegiatan ini adalah rangkaian kampanye Global March for Elephants and Rhino 2015, yang dilakukan serentak oleh 134 Kota di dunia termasuk Banda Aceh, 3 dan 4 Oktober 2015.

Para pegiat lingkungan di Kota Banda Aceh, ambil andil dalam aksi kampanye penyelamatan badak dan gajah ini dengan mengusung penyadartahuan kepada publik akan pentingnnya perlindungan badak dan gajah Sumatera di hutan Aceh yang terancam punah, karena kerusakan habitat dan lingkungan hidup.

Amatan Atjehlink, peserta aksi Global March for Elephant and Rhinos 2015 di Banda Aceh, berpawai keliling kota diawali dari Taman Putroe Phang, melintas depan Masjid Raya Baitturrahman menuju Bundaran Simpang Lima.

Di halaman Masjid Raya, para pegiat turut menggelar orasi ilmiah yang dilakuan oleh sejumlah peserta aksi, di antaranya duta wisata Aceh Besa, Nanda Mariska.

Dalam orasi singkatnya, Nanda mengajak kepedulian semua pihak  untuk berupaya melindungi dan melestarikan keanegaragaman hayati di hutan Aceh. Khususnya, penyelamatan satwa dilindungi yang terancam punah seperti gajah dan badak sumatera.

Di bundaran simpang lima, para peserta aksi yang turut mengusung sejumlah poster, menggelar aksi teatrikal yang menggambarkan aktivitas perburuan satwa dilindungi oleh para penjahat lingkungan.

Selain akasi teatrikal, di tempat ini para pegiat lingkungan juga menggelar orasi ilmiah secara bergantian. Zahrul, salah satu peserta aksi dalam orasinya menyerukan kepada semua pihak untuk aktif terlibat dalam usaha perilindungan satwa dilindungi, khusunya yang ada di Aceh.

Pegiat dari Koalisi Peduli Hutan Aceh (KPHA) ini, juga mendesak Pemerintah Aceh agar serius merumuskan kebijakan yang menjamin perlindungan badak dan gajah sumatera yang masih tersisa di hutan Aceh.

Zahrul juga meminta penegak hukum untuk menindak tegas para pelaku perburuan dan perdagangan satwa dilindungi yang berkeliaran di Aceh. Pasalnya, kata dia, aksi perburuan dan perdagangan satwa dilindungi semakin merajalela. Bahkan, melibatkan oknum dari lintas institusi dan para pembesar negeri.

Faktanya, sambung dia, jumlah satwa dilindungi seperti gajah, badak dan orang utan di Aceh yang terus diburu semakin berkurang dan berada di ambang kepunahan. Karenanya, upaya perlindungan dan pelestarian satwa-satwa dilindungi penting segera dilakukan.

Orator lainnya, Fendra, mengajak seluruh elemen masyarakat agar tergerak melakukan aksi nyata melindungi keberadaan satwa badak dan gajah sumatera.

“Satwa gajah dan badak di Aceh yang terancam punah butuh perhatian kita semua. Khususnya Pemerintah Aceh,” ujar Fendra yang baru terpilih sebagai Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) ini.

Koordinator aksi Global March for Elephant and Rhinos Aceh 2015, Danurfan, pada kesempatan itu mengutarakan, 134 kota di seluruh dunia ikut andil dalam aksi Global March for Elephants and Rhino 2015. Diselenggarakan serentak tanggal 3 dan 4 Oktober.

Acara ini, kata Danurfan, bertujuan mengkampanyekan perlindungan terhadap satwa dilindungi seperti gajah dan badak dari ancaman kepunahan.

“Kali pertama dalam sejarah, gajah dan badak Sumatera telah dinyatakan lebih kritis terancam punah daripada gajah dan badak Afrika. Badak Sumatera bahkan sudah dinyatakan punah oleh Malaysia tahun ini,” ujar Danurfan.

Ia menambahkan, dari 134 kota di dunia yang ikut andil dalam kampanye global ini, Banda Aceh akan menjadi wakil dalam kampanye perlindungan gajah dan badak Sumatera. Karena, saat ini benteng terakhir bagi kehidupan gajah dan badak adalah di Kawasan Konservasi Taman Nasional Gunung Leuser.

Dijelaskan Danurfan, terdapat 3 Taman Nasional di Sumatera yang masih mendukung kehidupan gajah dan badak Sumatera yaitu Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan Taman Nasional Way Kambas.

Saat ini, sambungnya, Badak Jawa pun hanya tersisa di Taman Nasional Ujung Kulon. Indonesia khususnya Aceh dan ekosistem Taman Nasional Gunung Leuser memegang harapan terakhir pelestarian dan keberadaan satwa tersebut di bumi ini.

“80 persen dari ekosistem Leuser merupakan rumah bagi populasi gajah Sumatera dan badak. Sementara kawasan ini mengalami berbagai tekanan menuju kehancuran dan deforestasi secara drastis,” ujarnya.

Menurut Danurfan, laju degradasi hutan Indonesia mencapai 2 juta hektar per tahun. Konversi hutan, illegal logging, dan kebakaran hutan merupakan ancaman utama kelestarian hutan Aceh saat ini.

Merujuk pada fakta tersebut, lanjut dia, lintas komunitas dan personal di Aceh penggerak Global March for Elephants and Rhino Aceh 2015, akan mempromosikan secara terbuka kesadaran pentingnya konservasi dengan ekosistem Leuser sebagai ikon utama.

“Selain menjadi kampanye terbuka untuk upaya penyelamatan gajah dan badak Aceh, kegiatan ini juga diharapkan akan meningkatkan kapasitas dan keakraban bersama lintas lembaga dan komunitas di Aceh,” tutur Danurfan.

Global March for Elephants and Rhino Aceh 2015 berharap, aksi seperti ini akan membuka mata dunia untuk lebih aktif mencari tahu dan peduli terhadap satwa liar yang berada di Sumatera, termasuk gajah, badak, orangutan dan harimau yang pada saat ini berada di ambang kepunahan.

“Sangat ironis seandainya satwa yang sangat besar manfaatnya bagi alam ini hilang dari permukaan bumi hanya karena kita terlambat menyelamatkannya,” tegas dia.

Karena itu, sebut Danurfan, kami berharap pemerintah, swasta, LSM, serta masyarakat global akan memperhatikan hal ini dan terus mendukung program-program konservasi yang ada di Aceh.

“Semua pihak harus meninggalkan faham antroposentris dan segera menerapkan etika deep ecology atau ecosophy (etika konservasi) guna dapat menyelamatkan isi alam dari ancaman kepunahan. Kita semua bertanggung jawab untuk menjamin pembangunan dalam lingkungan hidup yang aman dan berkelanjutan, sebagai jaminan untuk kelangsungan kehidupan anak cucu kita di masa depan,” pungkas Danurfan.

Para lembaga jyang tergabung dalam aksi Global March for Elephantn and Rhinos Aceh 2015 di antaranya; BKSDA Aceh, Friends of Orangutan, Save Wildlife Conservation Fund International, HAkA, LSGK, FFI, acci, PFI, Atelier Sanggar  Lukis Banda Aceh, KPHA, KOFAKAHA Unsyiah, Tropical Society, Darah untuk Aceh, OrangUtan Kita, Daun, ICAOS, AK Production, Aceh Entertainment, Komunitas Jeuneurob, The Leader, @acehphotoclub, Aceh Adventure, Kloe Think Road, Get Aceh, OTAP Aceh, Standup Comedy Indo BNA, Putroe Bungong Aceh, Leuser Coffee dan Sugar Sopbuah. (sd/al1)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *