Berita PilihanHeadline NewsSigom Atjeh

Aceh Darurat Kekerasan Terhadap Anak

Sejumlah tokoh masyarakat dan aktivis kemanusiaan yang tergabung dalam Awak Droe Only (ADO) melakukan aksi prihatin kekerasan terhadap anak di Simpang Lima, Banda Aceh. Senin (05/10/2015). AtjehLINK |sd

Sejumlah tokoh masyarakat dan aktivis kemanusiaan yang tergabung dalam Awak Droe Only (ADO) melakukan aksi prihatin kekerasan terhadap anak di Simpang Lima, Banda Aceh. Senin (05/10/2015). AtjehLINK |sd

Banda Aceh- Kekerasan yang dialami oleh anak dan perempuan di daerah ini menunjukkan Aceh sudah berada dalam keadaan darurat kekerasan terhadap anak. Hal ini harus menjadi perhatian dan tanggung jawab bersama.

Demikian diungkapkan Koordinator Lapangan Awak Droe Only (ADO) Verri Al-Buchari Keuramat, dalam aksi keprihatinan terhadap anak yang dilangsungkan di bundaran Simpang Lima, Banda Aceh, Senin (05/10/2015).

Menurut Verri, selama September 2015 dan Oktober, setidaknya mencuat beberapa kasus kekerasan terhadap anak Aceh. Pertama, kasus kekerasan terhadap Ayu Azahra (6). Bocah warga Gampong Pandrah Kabupaten Bireuen ini diduga dibakar dan akhirnya meninggal dunia.

Selanjutnya, kasus pemerkosaan terhadap siswi kelas 3 SD di salah satu kecamatan di Pidie. Selain itu,  terdapat kasus  pengeroyokan Nurul Fatimah,  siswi MIN Keunalo, Kecamatan Seulimum, Aceh Besar.

Terakhir, kasus memprihatinkan dialami siswi SD di Meulaboh. Siswi yang berumur 14 tahun tersebut melahirkan bayi perempuan pada hari Jumat (02/10/2015) lalu. Anak perempuan ini terpaksa melahirkan bayi tak berdosa setelah diperkosa oleh seorang pria yang sudah beristri dan beranak dua.

Merujuk pada fakta sejumlah kererasan terhadap anak tersebut, menurut Verri, siapaun akan sangat terpukul. Kejadian tersebut adalah tamparan kepada semua orang tua yang lalai dalam mendidik dan melindungi anak.

Verri menambahkan, jika tidak ada tindakan tegas dan terstruktur dari semua pihak, maka masa depan anak Aceh akan sangat suram.

“Orang tua dan rumah adalah guru  dan sekolah pertama bagi anak-anak. Jangan lepasakan anak kepada pihak lain termasuk menitipkan anak kepada siapa pun,” ajak Verri.

Sebagai bentuk  keprihatinan bersama agar kekerasan khususnya kekerasan seksual terhadap anak tidak terulang lagi, kata Verri, maka kepedulian masyarakat dan lingkungan terhadap potensi terjadi kekerasan seks harus ditingkatkan. Selain itu, keluarga dan masyarakat harus berani melapor kepada polisi jika diduga ada pelecehan dan kekerasan terhadap anak-anak.

“Jika anak diperkosa, ini aib. Pelaku harus dihukum berat. Semua pasti sepakat pelaku kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak dihukum seberat-beratnya. Sanksi adat juga harus diberlakukan untuk penjahat kekerasan terhadap anak,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Indonesia telah menjamin hak dan perlindungan anak. Hal itu sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 B ayat (2) UUD 1945. Selain itu, Indonesia juga telah merativikasi Konvensi International Hak-Hak Anak melalui Keputusan Presiden Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Dalam konteks Aceh, sambung Verri, telah disahkan Qanun 11 tahun 2008 tentang Perlindungan anak. “Melindungi anak dari berbagai kejahatan adalah upaya menyelamatkan masa depan bangsa dan peradaban manusia,” ungkap Verri.

Agar kasus Ayu dan Fatimah juga sederet kasus pelecehan seksual serta kekerasan terhadap anak tidak terulang lagi, ADO kata Verri, meminta Pemerintah Aceh agar sungguh-sungguh melaksanakan Qanun Nomor 11 tahun 2008 tentang Perlindungan Anak.

Mengutip data Badan Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak (BP2A) Aceh, kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di Aceh meningkat. Pelaku pada umumnya adalah orang terdekat korban, seperti orang tua, paman, bibi, saudara, tetangga dan teman korban. Tahun 2012 kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan mencapai 679 kasus. Tahun 2013  848 kasus. Tahun 2014 788 kasus.

Aksi kepedulian terhadap anak yang berlangsung di bundaran simpang lima ini berjalan tertib di bawah pengawalan polisi. Terlihat hadir sejumlah tokoh masyarakat dalam aksi itu di antaranya mantan Wali Kota Sabang Munawar Liza, Ketua Komisi Informasi Aceh Afriza Tjoetra, Direktur Koalisi NGO HAM Zulfikar Muhammad dan Poitisi NasDem Taf Haikal. (sd/ al1)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *