Berita PilihanHeadline NewsHukumSigom Atjeh

GeRAK: Pelaksanaan TTG di Aceh Berpotensi Korupsi

Kegiatan Amburadul, EO Lakukan Wan Prestasi

Banda Aceh – Pekan Inovasi Perkembagan (PIN) Desa/kelurahan Nasional dan Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) ke-17 yang berlangsung dari 7-12 Oktober 2015, dilaksanakan di Stadion Harapan Bangsa Banda Aceh.

Dalam pelaksanaanya, kegiatan ini ternyata tidak maksimal dan bahkan sangat amburadul. Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh menuding, itu terjadi akibat dari ketidakberesan penanggungjawab pelaksana kegiatan dalam hal ini event organizer (EO).

“Patut diduga telah terjadi dugaan tindak pidana korupsi secara sistemik yaitu telah terjadi wan prestasi akibat ketidak-beresan dalam menangani kepanitiaan acara sebagaimana kontrak yang dilaksanakan,” sebut Askhalani, Koordinator GeRAK Aceh, Senin (12/10/2015).

Berdasarkan hasil penelusuran yang dilaksanakan oleh GeRAK Aceh, selama berlangsung event kegiatan tersebut ditemukan beberapa sub kegiatan yang tidak mampu dipenuhi oleh EO pelaksana. Salah satunya terkait dengan suplai arus listrik yang dalam kontrak disebutkan bahwa pemenuhan daya listrik akan ditanggulangi dengan menggunakan mesin genset dengan kapasitas tinggi dan akan didatangkan dari Jakarta.

“Akan tetapi dalam kenyataanya hal tersebut tidak dapat dipenuhi, sehingga sejak acara dibuka kondisi terhadap suplai arus listrik tidak maksimal dan bahkan sering padam dan membuat peserta kegiatan mengeluh,” kata dia.

Problem lainnya terkait dengan mobilisasi alat angkut transportasi untuk peserta kegiatan. Dalam kontrak disebutkan pihak EO akan menyediakan mobil BMW sebagai sarana alat transportasi khusus peserta kegiatan. “Tetapi dalam pelaksanaanya pihak EO ternyata tidak mampu mewujudkan sebagaiamana kontrak yang telah dilaksanakan, dan bahkan ironisnya peserta kegiatan malah mengeluhkan tentang biaya mobil rental yang sangat mahal dan tidak masuk akal.”

Selain itu, berdasarkan hasil penelusuran GeRAK Aceh selama kegiatan berlangsung, ditemukan beberapa hal lain yang menyebabkan pelaksanaan PIN dan TTG ke-17 tidak berjalan maksimal. “Misalnya fasilitas tempat acara yang konon AC-nya saban waktu mati, WC yang tidak mendukung dan membuat peserta kelabakanhingga harga makanan yang meroket,” kata Askhalani.

“Kemudian fasilitas untuk pintu gerbang dibuka hanya satu, padahal diketahui di stadion memiliki dua gerbang pintu utama dan luas. Ini menunjukan bahwa EO pelaksana tidak cakap dalam mengurus acara sebagaimana kontrak yang ditandatangani.”

Berdasarkan hal tersebut, sambung Askhalani, maka dapat diyakini EO pelaksana kegiatan PIN/TTG telah melakukan “wan prestasi” alias pelanggaran terhadap kontrak dan dipastikan akibat hal tersebut juga berimplikasi terhadap anggaran yang dijadikan referensi dalam pelaksanaan acara. “Berdasarkan fakta tersebut pihak kejaksaan dan kepolisian harus segera melakukan penyidikan  karena patut diduga kegiatan ini berpotensi terjadi dugaan tindak pidana korupsi, apalagi beberapa item kegiatan yang dilaksanakan tidak sesuai dengan kontrak yang ditandatangani.”

“Penyidikan terhadap kegiatan ini patut dilakukan oleh aparat hukum, apalagi pemerintah Aceh telah mengeluh terhadap kegiatan yang diselenggarakan yang konon anggarannya mencapai Rp 12 Milyar, dan ini menjadi pintu masuk bagi aparat hukum untuk membongkar kasus ini apalagi dari total jumlah anggaran yang tersedia banyak yang dilaksanakan tidak sesuai perencanaan awal,” pungkas Askhalani. (sp/al3)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *