Berita PilihanEkonomi

BNN Ajak Masyarakat Budidayakan Tanaman Tumpangsari

BNNAceh Besar – Badan Narkotika Nasional (BNN) menyerahkan bantuan bibit dan sarana prasarana budidaya kopi, kakao tumpangsari cabe kepada petani di kawasan Kuta Cot Glie. Proses penyerahan dilakukan oleh I Nyoman Mertajaya selaku Pejabat Penerima Barang/Jasa Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat BNN, (Jum’at, 16/10/2015)

Bantuan yang diberikan kepada petani  tersebut berupa bibit kakao, kopi dan cabe, papan proyek, kawat duri, kawat bronjong, pupuk NPK, pupuk Kompos, herbisida, pestisida, gunting stek, alat penyiram, cangkul, parang dan polybag. Seluruh bantguan yang diserahkan oleh BNN merupakan hasil pengadaan melalui sistem pelelangan di ULP BNN.

I Nyoman menambahkan bahwa bantuan ini bersifat sebagai pengungkit, dimana diharapkan peran dari Pemda & swasta sangat terbuka lebar untuk menyempurnakannya. Dan yang paling penting dari kegiatan ini kami berharap kesadaran masyarakat akan bahaya penyalahgunaan narkoba dapat meningkat dan masyarakat tidak lagi menanam ganja.

“Oleh karenanya melalui upaya budidaya kakao, kopi dan cabe merah ini, BNN terus melakukan peningkatan kualitas dan kuantitas program melalui fasilitasi pembinaan bagi petani yang tergabung dalam kelompok tani ini,” terang I Nyoman.

Demi kesuksesan program tersebut, para petani juga akan didampingi oleh tenaga-tenaga penyuluh dan tim teknis pengembangan lahan yang dipimpin  oleh Ir Ridwan Yacob, MP dari Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Aceh Besar, dan dibantu oleh dua orang penyuluh lapangan yang bertugas melakukan pemembinaan, memonitor dan mengevaluasi.

“Kami berharap, kelak di kawasan ini akan muncul petani kopi dan kakao unggulan dari Binaan BNN. Sehingga citra kawasan ini yang semula daerah penanam ganja menjadi penghasil kakao dan kopi,” pungkas Nyoman.

Lima Tahun Operasi, Polda Aceh Musnahkan

Selama operasi ganja yang dilakukan Kepolisian Daerah (Polda) Aceh sepanjang tahun 2011-2015 berhasil menyita lahan ganja seluas lebih dari 900 hektar. Pada tahun 2011, Polda Aceh berhasil mengamankan lahan ganja seluas 354,5 hektar. Di tahun 2012, lahan ganja yang disita menurun sebesar 21 persen atau seluas 279,85 hektar.

Kemudian pada tahun 2013 lahan ganja yang berhasil disita menurun sebesar 44,6 persen atau sebesar 155 hektar. Tahun 2014 lalu, Polda Aceh berhasil menyita ganja seluas 128 Hektar  atau turun sebesar 18 persen. Sedangkan pada tahun 2015, dalam gelaran razia yang dilakukan sepanjang Januari – Mei, penemuan ladang ganja sudah mencapai 91 hektare.

“Artinya ada kesadaran tinggi dari masyarakat untuk melaporkan aksi penanaman ganja oleh sindikat narkoba di Aceh. hal ini tentu saja ditindaklanjuti Polda Aceh dengan menggelar operasi-operasi eradikasi Ganja.”

Program Pembinaan BNN telah Dimulai Sejak 2011

Nyoman menjelaskan, upaya ini tentunya sangat menggembirakan masyarakat karena dengan dimusnahkannya ratusan hektar lahan ganja tentu saja menyelamatkan generasi muda bangsa dari penyalahgunaan narkoba, sekaligus memutus rantai jaringan sindikat narkoba Aceh.

Sementara itu, Agus Sutanto, selaku Staf Pemetaan dan Analisis Masyarakat Desa Direktorat Pemberdayaan Alternatif BNN menjelaskan, Pemerintah melalui BNN terus berupaya mengajak bekas petani penanam Ganja untuk beralih profesi menggeluti usaha yang legal dan menguntungkan.

Mulai dari tanaman Nilam (2010), peternakan kambing, unggas, serta perikanan (2011), komoditi nilam, Jabon tumpangsari kunyit (2012), Kopi, nilam, sayuran dan buah-buahan (2013) dan sejak tahun 2014 mulai menghadirkan Kopi, Kakao sebagai komoditi unggulan yang diharapkan bisa menghasilkan secara kontinyu dan meningkatkan pendapatan bagi petani.

“Komoditi kopi dan kakao yang diprediksi dalam dua tahun sudah menghasilkan. Didukung dengan tumpangsari cabe merah yang dalam 6-7 bulan dapat dipanen, tentunya akan membantu denyut perekonomian masyarakat.”

Untuk diketahui bersama, BNN telah melakukan serangkaian kegiatan di Kuta Cot Glie, Indrapuri, Lamteuba dan Seulimeum pada tahun 2015 ini. Mulai dari Raker Stakeholder dalam rangka konsolidasi kepada para pemangku kepentingan agar bersinergi dalam pemberdayaan masyarakat mantan penanam ganja, pembekalan petani melalui budidaya komoditi tanaman alternatif dan puncaknya kegiatan pengembangan lahan kakao, kopi tumpangsari cabe dengan luas lahan masing-masing 10 hektar.

Program pemberdayaan alternatif (Alternative Development) tahun 2015 ini diikuti oleh 125 petani dari 5 Kecamatan (Montasik, Suka Makmur, Seulimeum, Indrapuri dan Kuta Cot Glie) di Aceh Besar dan 1 Kecamatan di Pidie Jaya.

Di Lamteuba, sebanyak 25 petani dari 7 Gampong (Lampante, Blangtingkeum, Lam Apeng, Lambada, Pulo, Lamteuba Droe, Meurah dan Lambada). Di Indrapuri terdapat satu Gampong, yaitu Mesalee dibina 25 petani dan Kuta Cot Glie sebanyak 25 petani yang berasal dari Gampong Siron Blang dan Siron Krueng. Para tersebut tergabung dalam sebuah wadah atau kelompok tani.

BNN berharap, dengan masa tanam yang relatif singkat, yaitu 1-2 tahun diharapkan tanaman kakao dan kopi ini akan memberikan pendapatan kepada para petani sehingga tidak lagi tergiur menanam Ganja di pegunungan. Sebagaimana diketahui, Aceh masih mendominasi rangking tertinggi penanaman Ganja di Indonesia, yaitu 95 persen.

“Semua pihak tentunya sangat menanggapi positif terhadap upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) termasuk program alternative development ini, setidaknya telah mampu menurunkan angka peredaran narkoba di Aceh secara signifikan,” pungkas Agus Sutanto. (Arunda)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *